Biasanya aku pulang
jam 5 atau 6 sore. Tak kenapa-kenapa. Tak ada apa-apa. Tukang ojek muda yang
seliweran biasa kulihat itu datang lagi. Menawariku naik. Padahal ia tahu kalau
aku tak pernah mau naik ojek. Ia memanggil-manggilku, dengan sapaan yang tak
kupahami. Lalu mengobrol beberapa langkah dari tempatku berdiri. Mengobrol dengan
teman-temannya.
Saat aku melihat bus
kota yang hendak kunaiku, beberapa dari mereka merapat kearahku. Menghalangiku masuk
ke dalam bus. Dua orang diantaranya mengapit kanan dan kiriku, seorang dari
belakang merogoh saku yang berisi handphone-ku. Sadar akan hal itu. Aku yang
entah sok berani malah turun dan menantang mereka, meneriaki mereka. Bodohnya,
aku malah meminta tolong pada salah seorang dari komplotannya.
Aku maju menatapnya. Ia
ikut maju. Menggertakku. Ramai. Sungguh tempat itu ramai. Tapi tak seorangpun
peduli. Tak seorangpun. Lalu aku mundur, bus kota itu menungguku. Dingin. Dingin
sekali. Tak ada rasa care sama
sekali, seakan pemandangan itu adalah hal yang lumrah terjadi. Orang-orang di
dalam bus itu hanya memandangiku dalam diam, entah apa yang ada dalam benak
mereka. Mungkin dalam benarnya, mereka berkata “Welcome to the jungle. Siapa yang kuat, dia yang bertahan.”
Dua orang ibu yang
duduk dibelakangku menanyakan apa yang membuat aku begitu berani turun dan
menantang mereka serta mengapa begitu bodoh mengantarkan nyawa padanya. Kujawab
dengan isak tangis saja. Untuk pertama kalinya, aku menangis tersedu-sedu di
depan orang banyak. Sungguh itu pertama kalinya. Aku harap jadi yang terakhir.
Aku sampai ke rumah
dengan mata bengkak kemerahan. Ibuku menanyakan kenapa dengan nada panik
sungguhan. Kuceritakan segalanya. Ibuku bilang, kenapa harus hilang, kita
sedang tak punya uang. Aku diam seribu bahasa kukunci mulutku tapi mataku terus
mengalirkan air mata. Tak kusangka begitu tanggapannya.
Aku masuk ke kamar
mandi, hendak menyambung tangis. Bukan lagi karena apa yang kumiliki hilang, tapi
Ibu yang kuharapkan orang pertama yang peduli terhadapku malah mengkhawatirkan
uang. Tangisku tambah menjadi. Samar-samar kudengar ibu bercerita pada eyang. “Uang
bisa dicari tapi nyawa nggak ada yang jual.” Katanya aku terpesona.
Indahnya kata-kata
itu. Kata pertama yang ia katakan setelah melihat wajahku adalah “Makanlah nak.”
Itu saja. Itu saja yang ingin kudengar..
_phie, Sabtu 15
September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar