Sabtu, 15 September 2012

Uang bisa dicari tapi nyawa nggak ada yang jual



   Secepat transmisi cahaya saja. Hari sabtu yang pilu. Tak biasanya aku pulang dari kampus siang benderang. Masih jam setengah satu, telepon masuk ke ponselku. Ibuk. Begitu tulisan yang nampak di layarnya. Minta dibelikan isi necis dan menyuruh pulang cepat. Tak ambil tempo, aku bergerak cepat. Membeli apa yang diminta lalu naik ke angkutan kota kecil ke masjid Agung. Disana aku akan menyambung naik bus kota.
  Biasanya aku pulang jam 5 atau 6 sore. Tak kenapa-kenapa. Tak ada apa-apa. Tukang ojek muda yang seliweran biasa kulihat itu datang lagi. Menawariku naik. Padahal ia tahu kalau aku tak pernah mau naik ojek. Ia memanggil-manggilku, dengan sapaan yang tak kupahami. Lalu mengobrol beberapa langkah dari tempatku berdiri. Mengobrol dengan teman-temannya.
  Saat aku melihat bus kota yang hendak kunaiku, beberapa dari mereka merapat kearahku. Menghalangiku masuk ke dalam bus. Dua orang diantaranya mengapit kanan dan kiriku, seorang dari belakang merogoh saku yang berisi handphone-ku. Sadar akan hal itu. Aku yang entah sok berani malah turun dan menantang mereka, meneriaki mereka. Bodohnya, aku malah meminta tolong pada salah seorang dari komplotannya.
  Aku maju menatapnya. Ia ikut maju. Menggertakku. Ramai. Sungguh tempat itu ramai. Tapi tak seorangpun peduli. Tak seorangpun. Lalu aku mundur, bus kota itu menungguku. Dingin. Dingin sekali. Tak ada rasa care sama sekali, seakan pemandangan itu adalah hal yang lumrah terjadi. Orang-orang di dalam bus itu hanya memandangiku dalam diam, entah apa yang ada dalam benak mereka. Mungkin dalam benarnya, mereka berkata “Welcome to the jungle. Siapa yang kuat, dia yang bertahan.”
  Dua orang ibu yang duduk dibelakangku menanyakan apa yang membuat aku begitu berani turun dan menantang mereka serta mengapa begitu bodoh mengantarkan nyawa padanya. Kujawab dengan isak tangis saja. Untuk pertama kalinya, aku menangis tersedu-sedu di depan orang banyak. Sungguh itu pertama kalinya. Aku harap jadi yang terakhir.
  Aku sampai ke rumah dengan mata bengkak kemerahan. Ibuku menanyakan kenapa dengan nada panik sungguhan. Kuceritakan segalanya. Ibuku bilang, kenapa harus hilang, kita sedang tak punya uang. Aku diam seribu bahasa kukunci mulutku tapi mataku terus mengalirkan air mata. Tak kusangka begitu tanggapannya.
  Aku masuk ke kamar mandi, hendak menyambung tangis. Bukan lagi karena apa yang kumiliki hilang, tapi Ibu yang kuharapkan orang pertama yang peduli terhadapku malah mengkhawatirkan uang. Tangisku tambah menjadi. Samar-samar kudengar ibu bercerita pada eyang. “Uang bisa dicari tapi nyawa nggak ada yang jual.” Katanya aku terpesona.
  Indahnya kata-kata itu. Kata pertama yang ia katakan setelah melihat wajahku adalah “Makanlah nak.” Itu saja. Itu saja yang ingin kudengar..

_phie, Sabtu 15 September 2012 

Tidak ada komentar: