Jumat, 28 September 2012

Menjadi Kupu-Kupu


          Reaktif adalah istilah untuk bom nuklir yang siap meledak kalo lingkungannya nggak sesuai dengan apa maunya. Reaktif pada manusia adalah mudah meledak-ledak tanpa tahu situasi. Dan reaktif adalah sifat dari ulat.
          Cara hidup yang ditempuh ulat yang reaktif adalah pandai mengucapkan sumpah serapah dan keluhan. Pernahkah kamu berkata “Aku memang begini.” Ini adalah kalimat ulat. Karena kalimat itu bermaksud menyatakan “Aku begini, inilah aku. Kalo aku salah, bukan salahku. Bukan tanggung jawabku karena sudah ditakdirkan begini. Semua gak mungkin berubah.” Selain itu, merasa nggak bisa berbuat apa-apa, merasa terpaksa, merasa nggak mampu, dan merasa terganggu oleh perubahan situasi adalah bukti bahwa kamu reaktif.
          Kebalikan dari reaktif adalah proaktif. Proaktif artinya berpikir dahulu sebelum beraksi. Dan itu adalah sifat dari kupu-kupu. Kupu-kupu sangatlah proaktif, ia nggak bertindak berdasarkan kondisi lingkungannya dan kondisi dirinya. Ia sangat sadar bahwa jadi ulat bukan akhir dari kondisi dirinya. Ia juga sadar kalo diam aja , menerima kondisi yang menyebalkan, ia nggak bakal berubah. Makanya kupu-kupu mau bersusah payah berpuasa dalam kepompong agar tumbuh sayap dan berubah bentuk dari ulat menjadi kupu-kupu yang indah.
          Para nabi dan orang-orang legendaris adalah contoh orang-orang proaktif. Meraka nggak terbawa arus, Muhammad Rasulullah SAW justru membalas hinaan dengan senyuman dan kiriman roti yang lezat. Sebenarnya menjadi proaktif nggak sulit, asal mau berubah. Pasti bisa…

_Phie, ditulis Minggu, 12 Sept 2010
Dari buku Sean Covey op.cit hlm 24, dengan perubahan.

Sebuah perahu berlayar ke Timur dan yang satunya berlayar ke Barat,
Padahal perahu itu digerakkan oleh angin yang sama.
Bentangan layar kitalah dan bukan arah angin yang menentukan ke mana arah kita.
Seperti angin laut, itulah nasib kita.
Ketika mengarungi kehidupan,
Bentangan jiwa kitalah yang menentukan tujuannya
Dan bukan ketenangan atau hiruk pikuknya..
          _Ella Wheerler Wilcox

Tidak ada komentar: