Kamis, 13 September 2012

Masih tentang cinta pertama



     Tak ada yang istimewa dari sebaris nama dalam selembar kertas yang ditempel di majalah dinding jurusan. Kecuali jika nama itu sudah menggema di ubun-ubun sejak 5 tahun kepergiannya. Selalu ada ada dalam bayang dan mimpi bahwa satu hari nanti akan bertemu dengan pemiliknya.
     Spontan saja. Aku menghentikan langkah. Pengumuman mahasiswa yang lolos seleksi anggota futsal. Ia ada dalam urutan 9. Futsal. Ya, satu-satunya hal yang aku tahu tentangnya. Penggila bola. Ketakutan hebatku bahwa tak akan ada yang mampu menempati hatinya sebesar sepak bola.
     3 hari yang lalu, tepat bahwa aku tahu. Ia ada. Ada dalam jangkau yang mampu saling bertatap dan bertegur sapa. Tapi tak ada yang mampu kulakukan selain berlari ke sudut lain, mencari sunyinya sisi yang berbeda. Aku menghindar.
     5 tahun lalu. Masa yang begitu lucu. Begitu percaya diri bahwa mengerti apa yang disebut dengan cinta. Yang sampai detik ini aku tak paham maknanya. Tolok ukur apa yang kuindikasikan cinta yang dulu ku-elu-kan. Entah.
     Tak berubah. Ini masih tentang cinta pertama. Lelaki muda penggila bola yang memesonaku setiap saat. Kucari setiap jam istirahat berdentang. Lalu puas hanya dengan memandang bahunya, bajunya yang basah keringat, kakinya yang bergerak lincah di aula sekolah. Mengejar dan menendang makhluk kecil bertubuh tambun ke dalalm wadah jaring yang dijaga ketat seseorang. Sepak bola.
     Orang pertama dan belum kutemukan gantinya untuk menjadi inspirasiku untuk menulis. Percaya atau tidak, aku begitu lama absen menulis. Kubeli buku harian baru awal tahun 2008 yang hingga sekarang, tak sampai setengah kuisi lembarnya. Saat aku bertemunya, 3 buku harian jenis berbeda memenuhi tahun-tahunku. Sungguh, ajaibnya cinta pertama.
     Dan kini, meski lewat sekelebat cahaya saja. Puluhan langkah kaki jaraknya. Hanya melihat namanya di papan majalah dinding jurusan, aku dapat menulis ratusan kata untuknya. Disela-sela tumpukan tugas kuliah, pegal punggung, dan mata ngantuk. Aku meluangkan waktu untuknya.
     Masihkah aku jatuh cinta? Entah. Jangan tanya seperti itu. Aku tak mengerti apa artinya. Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa 5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merubah keadaan. Rasanya sudah tak sama dengan yang lalu. Tak ada lagi degub jantung dan desir darah, semuanya musnah. Entah aku yang berubah atau ia yang terlalu banyak perubahan, tapi sepertinya karena waktu yang telah merubah segalanya. Yang pasti, setahuku, apa yang kupahami  hanyalah  aku ingin dia tahu. Bahwa aku ada. Itu saja. Cukup untukku.
_phie, ditulis pada hari kejadian, 6 September 2012
Pukul 21:18 WIB

Tidak ada komentar: