Tak ada yang istimewa dari sebaris nama dalam selembar
kertas yang ditempel di majalah dinding jurusan. Kecuali jika nama itu sudah
menggema di ubun-ubun sejak 5 tahun kepergiannya. Selalu ada ada dalam bayang
dan mimpi bahwa satu hari nanti akan bertemu dengan pemiliknya.
Spontan saja. Aku menghentikan langkah. Pengumuman mahasiswa
yang lolos seleksi anggota futsal. Ia ada dalam urutan 9. Futsal. Ya,
satu-satunya hal yang aku tahu tentangnya. Penggila bola. Ketakutan hebatku
bahwa tak akan ada yang mampu menempati hatinya sebesar sepak bola.
3 hari yang lalu, tepat bahwa aku tahu. Ia ada. Ada dalam
jangkau yang mampu saling bertatap dan bertegur sapa. Tapi tak ada yang mampu
kulakukan selain berlari ke sudut lain, mencari sunyinya sisi yang berbeda. Aku
menghindar.
5 tahun lalu. Masa yang begitu lucu. Begitu percaya diri
bahwa mengerti apa yang disebut dengan cinta. Yang sampai detik ini aku tak
paham maknanya. Tolok ukur apa yang kuindikasikan cinta yang dulu ku-elu-kan.
Entah.
Tak berubah. Ini masih tentang cinta pertama. Lelaki muda
penggila bola yang memesonaku setiap saat. Kucari setiap jam istirahat
berdentang. Lalu puas hanya dengan memandang bahunya, bajunya yang basah
keringat, kakinya yang bergerak lincah di aula sekolah. Mengejar dan menendang
makhluk kecil bertubuh tambun ke dalalm wadah jaring yang dijaga ketat
seseorang. Sepak bola.
Orang pertama dan belum kutemukan gantinya untuk menjadi
inspirasiku untuk menulis. Percaya atau tidak, aku begitu lama absen menulis.
Kubeli buku harian baru awal tahun 2008 yang hingga sekarang, tak sampai
setengah kuisi lembarnya. Saat aku bertemunya, 3 buku harian jenis berbeda
memenuhi tahun-tahunku. Sungguh, ajaibnya cinta pertama.
Dan kini, meski lewat sekelebat cahaya saja. Puluhan langkah
kaki jaraknya. Hanya melihat namanya di papan majalah dinding jurusan, aku
dapat menulis ratusan kata untuknya. Disela-sela tumpukan tugas kuliah, pegal
punggung, dan mata ngantuk. Aku meluangkan waktu untuknya.
Masihkah aku jatuh cinta? Entah. Jangan tanya seperti itu.
Aku tak mengerti apa artinya. Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa 5 tahun
bukanlah waktu yang singkat untuk merubah keadaan. Rasanya sudah tak sama
dengan yang lalu. Tak ada lagi degub jantung dan desir darah, semuanya musnah.
Entah aku yang berubah atau ia yang terlalu banyak perubahan, tapi sepertinya
karena waktu yang telah merubah segalanya. Yang pasti, setahuku, apa yang
kupahami hanyalah aku ingin dia tahu. Bahwa aku ada. Itu saja.
Cukup untukku.
_phie, ditulis pada hari kejadian, 6 September 2012
Pukul 21:18 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar