Selasa, 07 Maret 2017

Ketika Rindu

Aku terpekekur dalam diam
di malam yang kelam
hanya doa yang yang membisik
Namun dirimu nampak tak terusik

Rindu yang siap diadu
Tanpa perlu sekutu

Namun doa ini begitu temaram
Berperang dalam 2/3 malam

Akankah ia menggenggam menang
Atau pulang membawa kekalahan

Adakah dirimu juga melawan kantuk
Bersujud namun tetap tawadhu

Ataukah aku yang terlalu banyak meminta
Menawan hatimu yang sejatinya meronta

Munkinkah doa adalah bentuk muslihat
Dari harapku yang kosong atas cinta
Maka haruskah aku berhenti atau setidaknya rehat
Lalu diam saja tanpa upaya

Jika rindu datang
Dan sapaku tak terucap
Kemana aku harus mengadu?

Jika rindu datang
Dan hatimu tak jua bergetar
Kemana aku harus berserah?

Hanya gelaran sajadahku 
Yang mampu mengetuk relung jiwamu
Itu satu-satunya cara untuk menemuimu
Untuk mencintaimu

.malam buta, ketika rindu, 
Ditulis3:19 am 23/11/2016



Rabu, 05 Oktober 2016

Today is a Gift

There is a saying : Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the “Present”
_Master Shifu, Kung Fu Panda



Dalam buku Padang Bulan, Andrea Hirata mengatakan bahwa kejutan merupakan hal yang luar biasa, seseorang bisa keranjingan dan bahagia hanya karena  menikmati sensasi sebuah hadiah kejutan.
Pada dasarnya hadiah tidak harus berarti berbentuk sebuah kejutan. Bisa jadi ia anugerah dari Yang Maha Kuasa, dan kita yang terlalu sibuk dengan penyesalan masa lalu dan pengharapan terlampau jauh di masa depan, tidak menikmati anugerah untuk hidup di hari ini.

Sejenak Hening, Adjie Silarus
“Menjalani Setiap Hari dalam Hidup dengan Sadar, Sederhana dan Bahagia”

23 tahun usia saya tahun ini, tepat hari ini. 6 Oktober 2016. Bagi saya, angka ini adalah angka keramat. Titik balik kehidupan saya. Di awal tahun saya biasa membuat harapan dan resolusi. Saya ingin ini, ingin itu, jadi begini, jadi begitu. Namun dari banyaknya resolusi, itu mungkin hanya jadi pengharapan sampah yang kosong.

Ada perbedaan mendasar mengenai resolusi dan harapan. Pertama, harapan hanya akan jadi sebuah angan-angan utopis kalau ia tidak dibarengi dengan usaha. Sebagai seorang muslim, saya memahami sebuah konsep bahwa setiap doa haruslah dibarengi dengan usaha, itulah yang islam sebut dengan ikhtiar. Yang kedua, resolusi dalam kbbi diartikan sebagai tujuan yang ingin dicapai. Bagi saya, resolusi merupakan tingkat kemajuan dari sebuah harapan. Resolusi merupakan visi yang didalamnya tergandung banyak misi.

Ada 3 visi besar yang saya beli mark, ctrl+b, ctrl+u, dan bahkan stabilo warna neon. Pertama, saya mau jadi business woman, punya usaha dan mendapatkan tempat untuk bejualan. Kedepannya, saya memiliki usaha suki yang mana sekarang Alhamdulillah bisa berjalan dan sudah punya lapak, meski hanya emperan jalan. Kedua, saya ingin jadi wanita karir, yang mana satu bulan terakhir saya mendapatkan pekerjaan, meski bukan pekerjaan di perusahaan bonafide dan salary-nya tidak sesuai ekspektasi, saya tetap bersyukur.

Dan yang terakhir, ini yang paling penting. Meski agak malu bercerita, saya sebenarnya memiliki harapan bahwa akan mengakhiri masa lajang di tahun ini. Dan inilah satu-satunya harapan saya tanpa misi, tanpa ikhtiar, tanpa usaha. Masalahnya karena saya tidak punya pacar lalu bagaimana bisa saya menikah coba? Tapi saya masih tetap berbaik sangka pada Allah SWT. Ada jalan secara islami toh untuk menikah, lewat perkenalan yang dihalalkan, taaruf namanya. Hehehe, gara-gara pengen nikah, saya mendadak islami. Ahh nggak juga, konsep taaruf saya kenal lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Habibburahman El Shirazi, dan saya suka lalu pada saat itu (10 tahunan lalu, saat masih SMP) saya kepingin juga kok. Meski bukan karena dasar syar’i. Murni hanya karena, “ihh lucu ya,” “pengen ah,”.



Banyak hal yang membuat saya berpikir ulang tentang harapan saya ini. Meski nggak punya pacar, memendam cinta sama orang lainpun nggak, saya merasa hidup saya udah full kok. Saya punya keluarga yang begitu demokratis, saya sama sekali tidak dibebankan apapun dalam setiap pengambilan keputusan. Keluarga saya tidak serta merta bertanya siapa pacar atau kapan menikah, itu semua adalah keputusan saya, itu semua urusan saya. Saya punya sahabat yang pemikirannya sama, nggak sibuk ngurusin pria dan nggak bergantung pada pria. Jadi, kalau dipikir-pikir menikah memanglah sebuah ibadah yang harus disegerakan, namun banyak hal yang mendasari kapan tepatnya itu akan terjadi. Saya pernah mendengar kutipan, in the right place, in the right time, and the right person. Bolehlah saya mengaminkan konsep itu. Begitu luar biasanya hingga saya percaya, di waktu dan tempat yang tepat saya akan menemukan orang yang tepat. Allah mengatur segalanya untuk saya, tanpa perlu saya jadikan itu sebuah visi dan misi. Saya toh hanya perlu membuka diri dan tentu saja memperbaiki diri, karena pria yang baik hanya untuk wanita yang baik.

Jadi meski nggak serta-merta saya membuang ‘pernikahan’ dalam resolusi tahun 2016, saya akan ikhlas menerima semua takdir yang digariskan Tuhan. Bukan karena putus asa, tahun 2016 sudah berjalan 10 bulan tapi tidak ada tanda-tanda ‘dilamar’ :D:D:D tapi saya merasa menikah adalah suatu tanggung jawab besar, baik secara moral maupun secara agamis. Karena bagi seseorang yang punya iman dan kepercayaan pada suatu agama, menikah merupakan sumpah pada Tuhan yang disaksikan oleh orang-orang. Jadi menikah bukan becandaan saya untuk harapan asal-asalan. Asal nikah tahun ini.

Saya menonton drama korea berjudul Age of Youth dan ada sebuah kutipan yang saya suka, katanya “kalau kau tersesat dalam kehidupan, itu caramu menemukan hidup yang baru”. Saya sudah tersesat dalam kehidupan dan sekarang saya menemukan diri saya di sebuah antah berantah dan saya akan memulai kehidupan saya hari ini.

Saya nggak akan menyesali masa lalu saya yang buruk. Bagaimanapun itu semua sudah terjadi dan nggak mungkin bisa saya ulang. Saya akan berhenti membuat harapan. Resolusi saya hanya untuk hal penting, hal praktis dan realistis, yang saya tahu harus saya lakukan dan saya mampu lakukan. Saya akan hidup untuk hari ini. Tanpa motivasi berlebihan, tanpa harapan-harapan utopis.
Saya lahir baru, usia 23 tahun, terlepas dari cinta pertama yang memuakkan, bebas dari tuntutan sosial, merdeka dari dikte masyarakat. Saya adalah saya. Saya hidup untuk diri saya sendiri. Siapa peduli orang mau bilang apa.



-pipi, 6 okt 2016


Minggu, 04 September 2016

Mungkin Cherry, Mungkin Strawberry

Gelenyar aneh ini mengusik ritual minum kopiku. Ketika sore yang berangin itu mencurahkan gerimis kecil dan lalu gadis mungil turun dari mobilnya sambil berlari kecil demi menghindari hujan lalu masuk ke tempat dimana aku berada.
Manis. Aroma tubuhnya yang menguar di udara saat ia melewati tempat dimana aku duduk. Mungkin cherry atau bisa jadi strawberry, aku tak begitu yakin. Rambutnya yang basah tak bebas bergerak terbawa angin, sinar lampu menyamarkan warnanya. Mungkin coklat tua atau bisa jadi burgundy.
Ia membawa secangkir cappuccino hangat dan menenteng sebuah tas tangan sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Dan lalu nyenyat, saat itu detik seolah berhenti berdetak, waktu berhenti berputar sekedar untuk membuat tatapan matanya syahdu menatapku.
Aku berani bertaruh untuk semua keindahan dunia yang pernah aku lihat sebelumnya. Ini mata paling cantik yang pernah ada. Coklat muda yang dibingkai bulu mata lentik. Ia melangkah mendekat lalu berhenti di hadapanku. Meminta dengan senyum terindah yang pernah kulihat.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Aku menyesap sebanyak mungkin oksigen. Aromanya strawberry.
Lalu dengan senyum, aku mengangguk kecil.
Ia mengibaskan rambutnya yang lembab. Warnanya burgundy.
Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang misterius. Dan itu saja cukup untuk membuatku jatuh cinta. Aroma manis strawberry dan rambut merah burgundy dipadu dengan senyum indah dan tatapan dari bola mata coklat muda yang menawan.

[sebuah flash fiction ; 27 08 2016 -- 12:26 WIB]

Inspiring music : Ed Sheran : Thinking out loud

[Review Film] Le Grand Voyage

Le Grand Voyage  adalah film produksi Perancis yang dalam bahasa Indonesia berarti Perjalanan Akbar. Film ini adalah film lama, rilis pada tahun 2004. Sangat disayangkan saya baru menontonnya pada tahun 2016. Itupun karena tidak disengaja karena tidak ada acara lain yang bisa saya tonton. Untuk ukuran film yang ‘iseng’ saja ditonton, saya seperti mendapatkan lotre di siang bolong. Karena tidak disangka-sangka cerita sederhana ini begitu sarat makna.  Film ini bersetting tahun 90an dengan alur cerita tentang perjalanan seorang Ayah dan anak sejauh 3.000 mil menuju Mekkah.

Film ini bercerita tentang Reda yang menemani Ayahnya berangkat haji dari Perancis menuju Saudi Arabia melalui jalan darat dengan mobil dengan melewati belasan negara dan puluhan kota. Perjalanan panjang ini mulanya sangat canggung. Reda dan Ayahnya tidak banyak berkomunikasi, mungkin juga kerena Reda gondok, terpaksa mengantar karena SIM kakanya dicabut akibat melanggar lampu merah.


Ayahnya adalah seorang Maroko yang bermukim lama di Perancis, jadi sebagai imigran muslim yang tinggal di negera minoritas muslim-mungkin (hanya pendapat saya) sulit mendidik anak dengan cara yang islami karena sudah bercampur dengan budaya daerah setempat-. Karena sepanjang film, ayahnya selalu pamit shalat kepada Reda dan Reda tidak pernah ikut sekalipun. Bahkan Ayahnya juga tidak mengajak Reda, mungkin karena tahu anaknya tidak akan shalat.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan orang-orang yang unik. Ada yang tak sengaja-seperti sudah ditakdirkan Allah SWT-membantunya, ada pula yang ternyata malah menipu mereka, sehingga uang untuk selama perjalanan harus dihemat supaya bisa cukup sampai ke tujuan dan bisa kembali pulang.

Di dalam perjalanan menuju Bulgaria, Reda yang sudah menyimpan pertanyaan ini lama, akhirnya bertanya juga pada Ayahnya.

“Papa kenapa tidak berangkat naik pesawat saja? Perjalanan ini sungguh merepotkan,”

Ayahnya dengan bijak menjawab, “Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya, lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.”

Saat dalam perjalanan dan Ayahnya akan shalat, mereka kehabisan persediaan air untuk wudhu, jadilah Ayahnya bertayamum. Sebelum shalat, Reda bertanya.



“Ayah, kenapa kau sangat ingin ke Mekkah?”

“Mekkah adalah tempat suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekkah sebelum dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya disana. Kita semua pasti meninggal di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di Mekkah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, nak. Allah memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini”

“Aku juga, yah”

Dalam perjalanan, saat bertemu rombongan yang juga akan berangkat haji, mereka semua saling menyapa layaknya saudara. Mungkin karena ini sudah dekat dengan tanggal naik haji, jadilah film ini kembali di putar. Saya terpesona pada beberapa percakapan mereka yang sangat natural, namun menggetarkan. Ada pula bagian tertentu yang membuat kerinduan meruap dalam diri saya untuk juga ikut ke Mekkah.

Saat dititik miqat, sebuah tempat pemberhentian dimana orang-orang mulai mengenakan ihram dan berjalan berarak-arakan menuju mekkah dengan menggemakan “labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa syariika lak.” merinding saya dibuatnya. Namun berangkat haji dewasa ini bukanlah perkara mudah. Ada proses mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang begitu panjang dan setelahpun dapat, akan ada proses tunggu yang lama pula. Mungkin 5 atau 10 tahun, bahkan lebih. Semogalah kita  menjadi orang-orang terpilih bisa menunaikan rukun islam yang ke-5.

Film ini merupakan film non dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di Mekkah pada musim Haji. Sang sutradara, mengatakan bahwa ketika mereka berada di sana, “tidak ada yang melihat kamera. Orang-orang bahkan seolah tidak tahu ada kru film di sana. Mereka seperti berada di dunia lain.”



-----Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu.-----

Semua orang tidak ada yang peduli pada kamera, perhatian semua orang hanya kepada Allah SWT. Memenuhi panggilannya.

Sutradara            : Ismael Ferrukhi
Pemeran             : Nicholas Cazale as Reda
                           : Mhamed Majd as Ayah
Rilis                   : November 2004
Bahasa               : Perancis, Arab Maroko

Ratting IMDB : 7,3/10

Referensi :
Wikipedia

IMDB

Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan

Bahkan jika seorang ilmuan terhebat di dunia yang mengucapkannya, aku tetap tidak memahami konsep bahwa cinta berarti melepaskan.  Aku memang tak paham apa itu ‘cinta’ namun jika itu menyakitkan, apa ia masih bermakna cinta? Jika aku jatuh sendirian dan penuh luka, haruskah aku tetap menamainya ‘cinta’?  

Tak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan mengetahui sisi gelap dirimu yang keji lalu bermusuh dengan dirimu sendiri karena baru memahami cinta yang selama ini bersemedi dihati. Tak ada yang lebih menggelikan dibanding mendapatkan penolakan cinta dari sahabat yang 10 tahun kau kenal demi seseorang yang tak genap 3 bulan ia kencani.

Hari itu pukul 10 malam, mendung. Kamu mengetuk pintu, sudah kepalang janji ingin bertemu. Katamu ada hal penting. Beranda kamar kost itu dingin. Sekaligus senyap seraya kamu berucap.

“Aku mau menikah,”

Matamu menatapku lembut, ada senyum tipis menghiasi bibirmu yang menghitam oleh batangan rokok yang selalu kamu hisap. Pelan-pelan aku mulai menyesap oksigen. Mewaraskan diriku sebelum jatuh menghantam tanah.

Harusnya cukup kubilang, “Aku kadung jatuh cinta sama kamu,” lalu memelukmu. Menculikmu dan memenjarakanmu dalam kamar yang hanya ada aku.

Tapi aku hanya pengecut yang membalas senyummu. Sesaat sebelum kamu melangkah, aku bertanya. Entah dari mana datangnya keberanian itu, aku menantang matamu yang lembut menatap mataku.

“Akankah berbeda kalau kubilang, jangan?”

Kalau hatimu hanya berdenyut mendengarnya, jantungku sudah bergolak karenanya, gaduh oleh turbulensi yang tiba-tiba menyerang.


Kamu menunduk, lalu pelan kulihat kepalamu menggeleng. Kamu melangkah, aku luruh. Sesak dihimpit rindu yang menyaru linu.

Palembang, 11082016, 14:47 WIB