There is a
saying : Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.
That is why it is called the “Present”
_Master
Shifu, Kung Fu Panda
Dalam buku Padang
Bulan, Andrea Hirata mengatakan bahwa kejutan merupakan hal yang luar biasa, seseorang
bisa keranjingan dan bahagia hanya karena
menikmati sensasi sebuah hadiah kejutan.
Pada
dasarnya hadiah tidak harus berarti berbentuk sebuah kejutan. Bisa jadi ia
anugerah dari Yang Maha Kuasa, dan kita yang terlalu sibuk dengan penyesalan
masa lalu dan pengharapan terlampau jauh di masa depan, tidak menikmati
anugerah untuk hidup di hari ini.
Sejenak Hening, Adjie Silarus
“Menjalani
Setiap Hari dalam Hidup dengan Sadar, Sederhana dan Bahagia”
23 tahun
usia saya tahun ini, tepat hari ini. 6 Oktober 2016. Bagi saya, angka ini
adalah angka keramat. Titik balik kehidupan saya. Di awal tahun saya biasa
membuat harapan dan resolusi. Saya ingin ini, ingin itu, jadi begini, jadi
begitu. Namun dari banyaknya resolusi, itu mungkin hanya jadi pengharapan sampah
yang kosong.
Ada
perbedaan mendasar mengenai resolusi dan harapan. Pertama, harapan hanya akan
jadi sebuah angan-angan utopis kalau ia tidak dibarengi dengan usaha. Sebagai
seorang muslim, saya memahami sebuah konsep bahwa setiap doa haruslah dibarengi
dengan usaha, itulah yang islam sebut dengan ikhtiar. Yang kedua, resolusi
dalam kbbi diartikan sebagai tujuan yang ingin dicapai. Bagi saya, resolusi
merupakan tingkat kemajuan dari sebuah harapan. Resolusi merupakan visi yang didalamnya
tergandung banyak misi.
Ada 3 visi
besar yang saya beli mark, ctrl+b, ctrl+u, dan bahkan stabilo warna neon.
Pertama, saya mau jadi business woman, punya usaha dan mendapatkan tempat untuk
bejualan. Kedepannya, saya memiliki usaha suki yang mana sekarang Alhamdulillah
bisa berjalan dan sudah punya lapak, meski hanya emperan jalan. Kedua, saya
ingin jadi wanita karir, yang mana satu bulan terakhir saya mendapatkan
pekerjaan, meski bukan pekerjaan di perusahaan bonafide dan salary-nya tidak
sesuai ekspektasi, saya tetap bersyukur.
Dan yang
terakhir, ini yang paling penting. Meski agak malu bercerita, saya sebenarnya
memiliki harapan bahwa akan mengakhiri masa lajang di tahun ini. Dan inilah
satu-satunya harapan saya tanpa misi, tanpa ikhtiar, tanpa usaha. Masalahnya
karena saya tidak punya pacar lalu bagaimana bisa saya menikah coba? Tapi saya
masih tetap berbaik sangka pada Allah SWT. Ada jalan secara islami toh untuk
menikah, lewat perkenalan yang dihalalkan, taaruf namanya. Hehehe, gara-gara
pengen nikah, saya mendadak islami. Ahh nggak juga, konsep taaruf saya kenal
lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Habibburahman El Shirazi, dan saya suka
lalu pada saat itu (10 tahunan lalu, saat masih SMP) saya kepingin juga kok.
Meski bukan karena dasar syar’i. Murni hanya karena, “ihh lucu ya,” “pengen
ah,”.

Banyak hal
yang membuat saya berpikir ulang tentang harapan saya ini. Meski nggak punya
pacar, memendam cinta sama orang lainpun nggak, saya merasa hidup saya udah
full kok. Saya punya keluarga yang begitu demokratis, saya sama sekali tidak
dibebankan apapun dalam setiap pengambilan keputusan. Keluarga saya tidak serta
merta bertanya siapa pacar atau kapan menikah, itu semua adalah keputusan saya,
itu semua urusan saya. Saya punya sahabat yang pemikirannya sama, nggak sibuk
ngurusin pria dan nggak bergantung pada pria. Jadi, kalau dipikir-pikir menikah
memanglah sebuah ibadah yang harus disegerakan, namun banyak hal yang mendasari
kapan tepatnya itu akan terjadi. Saya pernah mendengar kutipan, in the right
place, in the right time, and the right person. Bolehlah saya mengaminkan
konsep itu. Begitu luar biasanya hingga saya percaya, di waktu dan tempat yang
tepat saya akan menemukan orang yang tepat. Allah mengatur segalanya untuk
saya, tanpa perlu saya jadikan itu sebuah visi dan misi. Saya toh hanya perlu
membuka diri dan tentu saja memperbaiki diri, karena pria yang baik hanya untuk
wanita yang baik.
Jadi meski
nggak serta-merta saya membuang ‘pernikahan’ dalam resolusi tahun 2016, saya akan
ikhlas menerima semua takdir yang digariskan Tuhan. Bukan karena putus asa,
tahun 2016 sudah berjalan 10 bulan tapi tidak ada tanda-tanda ‘dilamar’ :D:D:D
tapi saya merasa menikah adalah suatu tanggung jawab besar, baik secara moral
maupun secara agamis. Karena bagi seseorang yang punya iman dan kepercayaan
pada suatu agama, menikah merupakan sumpah pada Tuhan yang disaksikan oleh
orang-orang. Jadi menikah bukan becandaan saya untuk harapan asal-asalan. Asal
nikah tahun ini.
Saya
menonton drama korea berjudul Age of Youth dan ada sebuah kutipan yang saya
suka, katanya “kalau kau tersesat dalam kehidupan, itu caramu menemukan hidup
yang baru”. Saya sudah tersesat dalam kehidupan dan sekarang saya menemukan
diri saya di sebuah antah berantah dan saya akan memulai kehidupan saya hari
ini.
Saya nggak
akan menyesali masa lalu saya yang buruk. Bagaimanapun itu semua sudah terjadi
dan nggak mungkin bisa saya ulang. Saya akan berhenti membuat harapan. Resolusi
saya hanya untuk hal penting, hal praktis dan realistis, yang saya tahu harus
saya lakukan dan saya mampu lakukan. Saya akan hidup untuk hari ini. Tanpa
motivasi berlebihan, tanpa harapan-harapan utopis.
Saya lahir
baru, usia 23 tahun, terlepas dari cinta pertama yang memuakkan, bebas dari
tuntutan sosial, merdeka dari dikte masyarakat. Saya adalah saya. Saya hidup
untuk diri saya sendiri. Siapa peduli orang mau bilang apa.
-pipi, 6
okt 2016