Minggu, 04 September 2016

Mungkin Cherry, Mungkin Strawberry

Gelenyar aneh ini mengusik ritual minum kopiku. Ketika sore yang berangin itu mencurahkan gerimis kecil dan lalu gadis mungil turun dari mobilnya sambil berlari kecil demi menghindari hujan lalu masuk ke tempat dimana aku berada.
Manis. Aroma tubuhnya yang menguar di udara saat ia melewati tempat dimana aku duduk. Mungkin cherry atau bisa jadi strawberry, aku tak begitu yakin. Rambutnya yang basah tak bebas bergerak terbawa angin, sinar lampu menyamarkan warnanya. Mungkin coklat tua atau bisa jadi burgundy.
Ia membawa secangkir cappuccino hangat dan menenteng sebuah tas tangan sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Dan lalu nyenyat, saat itu detik seolah berhenti berdetak, waktu berhenti berputar sekedar untuk membuat tatapan matanya syahdu menatapku.
Aku berani bertaruh untuk semua keindahan dunia yang pernah aku lihat sebelumnya. Ini mata paling cantik yang pernah ada. Coklat muda yang dibingkai bulu mata lentik. Ia melangkah mendekat lalu berhenti di hadapanku. Meminta dengan senyum terindah yang pernah kulihat.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Aku menyesap sebanyak mungkin oksigen. Aromanya strawberry.
Lalu dengan senyum, aku mengangguk kecil.
Ia mengibaskan rambutnya yang lembab. Warnanya burgundy.
Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang misterius. Dan itu saja cukup untuk membuatku jatuh cinta. Aroma manis strawberry dan rambut merah burgundy dipadu dengan senyum indah dan tatapan dari bola mata coklat muda yang menawan.

[sebuah flash fiction ; 27 08 2016 -- 12:26 WIB]

Inspiring music : Ed Sheran : Thinking out loud

Tidak ada komentar: