Gelenyar aneh ini mengusik ritual minum kopiku.
Ketika sore yang berangin itu mencurahkan gerimis kecil dan lalu gadis mungil
turun dari mobilnya sambil berlari kecil demi menghindari hujan lalu masuk ke
tempat dimana aku berada.
Manis. Aroma tubuhnya yang menguar di udara
saat ia melewati tempat dimana aku duduk. Mungkin cherry atau bisa jadi
strawberry, aku tak begitu yakin. Rambutnya yang basah tak bebas bergerak
terbawa angin, sinar lampu menyamarkan warnanya. Mungkin coklat tua atau bisa
jadi burgundy.
Ia membawa secangkir cappuccino hangat dan
menenteng sebuah tas tangan sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Dan
lalu nyenyat, saat itu detik seolah berhenti berdetak, waktu berhenti berputar
sekedar untuk membuat tatapan matanya syahdu menatapku.
Aku berani bertaruh untuk semua keindahan dunia
yang pernah aku lihat sebelumnya. Ini mata paling cantik yang pernah ada.
Coklat muda yang dibingkai bulu mata lentik. Ia melangkah mendekat lalu
berhenti di hadapanku. Meminta dengan senyum terindah yang pernah kulihat.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Aku menyesap sebanyak mungkin oksigen. Aromanya
strawberry.
Lalu dengan senyum, aku mengangguk kecil.
Ia mengibaskan rambutnya yang lembab. Warnanya
burgundy.
Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang
misterius. Dan itu saja cukup untuk membuatku jatuh cinta. Aroma manis
strawberry dan rambut merah burgundy dipadu dengan senyum indah dan tatapan
dari bola mata coklat muda yang menawan.
[sebuah
flash fiction ; 27 08 2016 -- 12:26 WIB]
Inspiring
music : Ed Sheran : Thinking out loud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar