Le Grand Voyage adalah film produksi Perancis yang dalam
bahasa Indonesia berarti Perjalanan Akbar. Film ini adalah film lama, rilis
pada tahun 2004. Sangat disayangkan saya baru menontonnya pada tahun 2016.
Itupun karena tidak disengaja karena tidak ada acara lain yang bisa saya
tonton. Untuk ukuran film yang ‘iseng’ saja ditonton, saya seperti mendapatkan
lotre di siang bolong. Karena tidak disangka-sangka cerita sederhana ini begitu
sarat makna. Film ini bersetting tahun
90an dengan alur cerita tentang perjalanan seorang Ayah dan anak sejauh 3.000
mil menuju Mekkah.
Film ini bercerita
tentang Reda yang menemani Ayahnya berangkat haji dari Perancis menuju Saudi
Arabia melalui jalan darat dengan mobil dengan melewati belasan negara dan
puluhan kota. Perjalanan panjang ini mulanya sangat canggung. Reda dan Ayahnya
tidak banyak berkomunikasi, mungkin juga kerena Reda gondok, terpaksa mengantar
karena SIM kakanya dicabut akibat melanggar lampu merah.
Ayahnya adalah
seorang Maroko yang bermukim lama di Perancis, jadi sebagai imigran muslim yang
tinggal di negera minoritas muslim-mungkin (hanya pendapat saya) sulit mendidik
anak dengan cara yang islami karena sudah bercampur dengan budaya daerah
setempat-. Karena sepanjang film, ayahnya selalu pamit shalat kepada Reda dan
Reda tidak pernah ikut sekalipun. Bahkan Ayahnya juga tidak mengajak Reda,
mungkin karena tahu anaknya tidak akan shalat.
Dalam perjalanan
mereka bertemu dengan orang-orang yang unik. Ada yang tak sengaja-seperti sudah
ditakdirkan Allah SWT-membantunya, ada pula yang ternyata malah menipu mereka,
sehingga uang untuk selama perjalanan harus dihemat supaya bisa cukup sampai ke
tujuan dan bisa kembali pulang.
Di dalam perjalanan
menuju Bulgaria, Reda yang sudah menyimpan pertanyaan ini lama, akhirnya
bertanya juga pada Ayahnya.
“Papa kenapa tidak
berangkat naik pesawat saja? Perjalanan ini sungguh merepotkan,”
Ayahnya dengan bijak
menjawab, “Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali.
Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya,
lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda
daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik
naik kapal laut daripada naik pesawat.”
Saat dalam perjalanan
dan Ayahnya akan shalat, mereka kehabisan persediaan air untuk wudhu, jadilah
Ayahnya bertayamum. Sebelum shalat, Reda bertanya.
“Ayah, kenapa kau
sangat ingin ke Mekkah?”
“Mekkah adalah tempat
suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan
Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara
fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekkah sebelum
dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya disana. Kita semua pasti meninggal
di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya
dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di
Mekkah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, nak. Allah
memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini”
“Aku juga, yah”
Dalam perjalanan,
saat bertemu rombongan yang juga akan berangkat haji, mereka semua saling
menyapa layaknya saudara. Mungkin karena ini sudah dekat dengan tanggal naik
haji, jadilah film ini kembali di putar. Saya terpesona pada beberapa
percakapan mereka yang sangat natural, namun menggetarkan. Ada pula bagian
tertentu yang membuat kerinduan meruap dalam diri saya untuk juga ikut ke
Mekkah.
Saat dititik miqat,
sebuah tempat pemberhentian dimana orang-orang mulai mengenakan ihram dan berjalan
berarak-arakan menuju mekkah dengan menggemakan “labbaikallaahumma labbaik,
labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa
syariika lak.” merinding saya dibuatnya. Namun berangkat haji dewasa ini
bukanlah perkara mudah. Ada proses mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang begitu panjang
dan setelahpun dapat, akan ada proses tunggu yang lama pula. Mungkin 5 atau 10
tahun, bahkan lebih. Semogalah kita
menjadi orang-orang terpilih bisa menunaikan rukun islam yang ke-5.
Film ini merupakan
film non dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di Mekkah pada
musim Haji. Sang sutradara, mengatakan bahwa ketika mereka berada di sana,
“tidak ada yang melihat kamera. Orang-orang bahkan seolah tidak tahu ada kru
film di sana. Mereka seperti berada di dunia lain.”
-----Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu.-----
Semua orang tidak ada yang peduli pada kamera,
perhatian semua orang hanya kepada Allah SWT. Memenuhi panggilannya.
Sutradara : Ismael Ferrukhi
Pemeran : Nicholas Cazale as Reda
: Mhamed Majd as
Ayah
Rilis : November 2004
Bahasa : Perancis, Arab Maroko
Ratting IMDB : 7,3/10
Referensi :
Wikipedia
IMDB



Tidak ada komentar:
Posting Komentar