Minggu, 04 September 2016

Mungkin Cherry, Mungkin Strawberry

Gelenyar aneh ini mengusik ritual minum kopiku. Ketika sore yang berangin itu mencurahkan gerimis kecil dan lalu gadis mungil turun dari mobilnya sambil berlari kecil demi menghindari hujan lalu masuk ke tempat dimana aku berada.
Manis. Aroma tubuhnya yang menguar di udara saat ia melewati tempat dimana aku duduk. Mungkin cherry atau bisa jadi strawberry, aku tak begitu yakin. Rambutnya yang basah tak bebas bergerak terbawa angin, sinar lampu menyamarkan warnanya. Mungkin coklat tua atau bisa jadi burgundy.
Ia membawa secangkir cappuccino hangat dan menenteng sebuah tas tangan sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Dan lalu nyenyat, saat itu detik seolah berhenti berdetak, waktu berhenti berputar sekedar untuk membuat tatapan matanya syahdu menatapku.
Aku berani bertaruh untuk semua keindahan dunia yang pernah aku lihat sebelumnya. Ini mata paling cantik yang pernah ada. Coklat muda yang dibingkai bulu mata lentik. Ia melangkah mendekat lalu berhenti di hadapanku. Meminta dengan senyum terindah yang pernah kulihat.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Aku menyesap sebanyak mungkin oksigen. Aromanya strawberry.
Lalu dengan senyum, aku mengangguk kecil.
Ia mengibaskan rambutnya yang lembab. Warnanya burgundy.
Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang misterius. Dan itu saja cukup untuk membuatku jatuh cinta. Aroma manis strawberry dan rambut merah burgundy dipadu dengan senyum indah dan tatapan dari bola mata coklat muda yang menawan.

[sebuah flash fiction ; 27 08 2016 -- 12:26 WIB]

Inspiring music : Ed Sheran : Thinking out loud

[Review Film] Le Grand Voyage

Le Grand Voyage  adalah film produksi Perancis yang dalam bahasa Indonesia berarti Perjalanan Akbar. Film ini adalah film lama, rilis pada tahun 2004. Sangat disayangkan saya baru menontonnya pada tahun 2016. Itupun karena tidak disengaja karena tidak ada acara lain yang bisa saya tonton. Untuk ukuran film yang ‘iseng’ saja ditonton, saya seperti mendapatkan lotre di siang bolong. Karena tidak disangka-sangka cerita sederhana ini begitu sarat makna.  Film ini bersetting tahun 90an dengan alur cerita tentang perjalanan seorang Ayah dan anak sejauh 3.000 mil menuju Mekkah.

Film ini bercerita tentang Reda yang menemani Ayahnya berangkat haji dari Perancis menuju Saudi Arabia melalui jalan darat dengan mobil dengan melewati belasan negara dan puluhan kota. Perjalanan panjang ini mulanya sangat canggung. Reda dan Ayahnya tidak banyak berkomunikasi, mungkin juga kerena Reda gondok, terpaksa mengantar karena SIM kakanya dicabut akibat melanggar lampu merah.


Ayahnya adalah seorang Maroko yang bermukim lama di Perancis, jadi sebagai imigran muslim yang tinggal di negera minoritas muslim-mungkin (hanya pendapat saya) sulit mendidik anak dengan cara yang islami karena sudah bercampur dengan budaya daerah setempat-. Karena sepanjang film, ayahnya selalu pamit shalat kepada Reda dan Reda tidak pernah ikut sekalipun. Bahkan Ayahnya juga tidak mengajak Reda, mungkin karena tahu anaknya tidak akan shalat.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan orang-orang yang unik. Ada yang tak sengaja-seperti sudah ditakdirkan Allah SWT-membantunya, ada pula yang ternyata malah menipu mereka, sehingga uang untuk selama perjalanan harus dihemat supaya bisa cukup sampai ke tujuan dan bisa kembali pulang.

Di dalam perjalanan menuju Bulgaria, Reda yang sudah menyimpan pertanyaan ini lama, akhirnya bertanya juga pada Ayahnya.

“Papa kenapa tidak berangkat naik pesawat saja? Perjalanan ini sungguh merepotkan,”

Ayahnya dengan bijak menjawab, “Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya, lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.”

Saat dalam perjalanan dan Ayahnya akan shalat, mereka kehabisan persediaan air untuk wudhu, jadilah Ayahnya bertayamum. Sebelum shalat, Reda bertanya.



“Ayah, kenapa kau sangat ingin ke Mekkah?”

“Mekkah adalah tempat suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekkah sebelum dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya disana. Kita semua pasti meninggal di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di Mekkah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, nak. Allah memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini”

“Aku juga, yah”

Dalam perjalanan, saat bertemu rombongan yang juga akan berangkat haji, mereka semua saling menyapa layaknya saudara. Mungkin karena ini sudah dekat dengan tanggal naik haji, jadilah film ini kembali di putar. Saya terpesona pada beberapa percakapan mereka yang sangat natural, namun menggetarkan. Ada pula bagian tertentu yang membuat kerinduan meruap dalam diri saya untuk juga ikut ke Mekkah.

Saat dititik miqat, sebuah tempat pemberhentian dimana orang-orang mulai mengenakan ihram dan berjalan berarak-arakan menuju mekkah dengan menggemakan “labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa syariika lak.” merinding saya dibuatnya. Namun berangkat haji dewasa ini bukanlah perkara mudah. Ada proses mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang begitu panjang dan setelahpun dapat, akan ada proses tunggu yang lama pula. Mungkin 5 atau 10 tahun, bahkan lebih. Semogalah kita  menjadi orang-orang terpilih bisa menunaikan rukun islam yang ke-5.

Film ini merupakan film non dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di Mekkah pada musim Haji. Sang sutradara, mengatakan bahwa ketika mereka berada di sana, “tidak ada yang melihat kamera. Orang-orang bahkan seolah tidak tahu ada kru film di sana. Mereka seperti berada di dunia lain.”



-----Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu.-----

Semua orang tidak ada yang peduli pada kamera, perhatian semua orang hanya kepada Allah SWT. Memenuhi panggilannya.

Sutradara            : Ismael Ferrukhi
Pemeran             : Nicholas Cazale as Reda
                           : Mhamed Majd as Ayah
Rilis                   : November 2004
Bahasa               : Perancis, Arab Maroko

Ratting IMDB : 7,3/10

Referensi :
Wikipedia

IMDB