Dua cover di atas adaah sampul
depan sebuah Film dengan judul Flipped dan novel Dilan. Ada beberapa unsur yang
membuat 2 karya ini saya jodohkan bersama. Sebagai hiburan disela-sela lelah,
Flipped dan Dilan memiliki daya ledak luar biasa dibalik sederhananya cerita
dan penyampaian. Oleh karenanya, saya kira 2 karya ini jauh lebih ngena dan
memesona daripada hanya sebagai penghibur dikala senggang
Saya menikmati Flipped lebih
dulu. Saya mendapatkannya dari seorang teman saat masih kuliah, lalu karena
sudah tak memiliki stok film yang ingin ditonton saya iseng menontonnya. Tanpa
prasangka dan ekspektasi saya mengikuti alurnya, tapi tak menyangka bahwa
semuanya berbalik seperti judul filmnya Flipped. Film berdurasi satu setengah
jam itu berhasil dan sukses membuat saya tersenyum-senyum sepanjangan.
Salah satu hal yang membuat saya
‘jatuh hati’ dengan Flipped adalah saya
seperti tidak menonton film ‘barat’ yang identik dengan pornografi sebagai
pemanis cerita. Romantika 2 bocah yang tinggal berseberangan rumah ini terkesan
lucu dan polos. Saya tidak menemukan adegan vulgar dan joke-joke kasar
sepanjang film. Dan jadilah Flipped berdiri sendiri dengan anggunnya tanpa
pengaruh dan bumbu-bumbu cerita yang merusak murninya cinta masa muda.
Lalu saya membaca Dilan karena
meminjam dari seorang kawan. Saya sudah ingin membeli Dilan sejak ia nongkrong
di Toko buku, namun karena berbagai hal, ia tak kunjung saya dapatkan. Saya
rasa saya tidak berhak menyama-nyamakan satu karya dengan karya lainnya namun
kali ini saya akan membuat gambaran kecil. Saya tidak menemui bahasa penuh
metafora seperti tulisan Dee disini, tidak juga mendapatkan tulisan deskriptis
khas Andrea Hirata yang penuh makna, apalagi tulisan padat dan berisinya A.
Fuadi.
Pidi Baiq selaku penulis yang
ngakunya imigran dari sorga ini menulis seperti jalan tol. Bebas hambatan.
Tidak ada drama, tidak ada romantisme berlebihan tiap jengkal ceritanya. Begitu
saja, namun ciamik dan memesona.
Persamaan Flipped dan Dilan
menurut saya ada pada seting waktu. Dimana kisah Juli ada pada tahun 1960-an
dan Milea pada tahun 1990-an. Hal ini tentu memengaruhi berbagai faktor seperti
budaya, cara bicara, dan tentu gaya ‘jatuh cinta’ anak mudanya.
Kisah Juli dan Bryce membuat
geleng-geleng kepala lewat tingkah konyol Juliana Baker saat membaui aroma
tubuh Bryce Loski yang beraroma semangka. Rob Reiner selaku sutradaranya mampu
menghadirkan scene ‘alay’ ini dengan cara yang apik.
Sama seperti cara Dilan yang
sungguh luar biasa ‘ajaib’ mengambil hati Milea lewat percakapan tentang nyamuk
dan kado Teka Teki Silang . seperti kata Milea, “meski yang dikatakannya bukan
kata-kata cinta, tapi menumbuhkan rasa cinta.”
Dua karya ini tidak
menggembar-gemborkan kisah cinta lewat karakter dan tokoh yang luar biasa,
tidak juga punya setting tempat yang berlebihan indah, apalagi mengucapkan
kata-kata cinta bak karya sastra, namun mampu menbuat aku jatuh cinta.
Post Script :
Bukan review, hanya kurang punya media untuk
menguarkan uneg-uneg. Jadilah tumpah disini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar