Jumat, 22 Juli 2016

Paragraf Terakhir

Cangkir kopiku surut separuh, huruf-huruf berserakan di layar laptopku sudah penuh berlembar-lembar, tak ada gangguan sedikitpun dari beberapa hari yang lalu. Selangkah lagi, aku menyelesaikan tulisan yang hampir mencapai tenggat waktu.








Tanganku berhenti menekan tuts  keyboard saat aku telah mencapai paragraf akhir, ada hal yang menghalangi gerakanku, rasanya berat sekali menyudahi tulisan ini. Karena kalau ini selesai, aku pulang. Tak ada lagi sesi kopi dan rintik gerimis yang berpadu manis.

Aku merogoh ransel. Tempat pensil, tisu, beberapa buku tebal, binder, lembar-lembar kertas fotokopi, kotak kacamata, dan sebotol minyak kayu putih yang kutemukan. Aku hampir memasukkan kepalaku ke dalam tas demi mencari sesuatu yang akan menarikku keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini.

Lalu akhirnya ketemu. Ponsel bodoh itu kutemukan. Maksudnya bukan memaki. Aku hanya mencoba membuat istilah untuk ponsel usang yang hanya mampu menelpon dan berkirim pesan teks. Maklum, orang-orang sekarang sudah memakai smartphone. Aku menamai diriku klasik, tapi teman-teman berpikir aku norak, hanya karena aku tergolong analog dan bukan digital.

Aku menekan tombol dayanya, lampu menyala. Beberapa saat kemudian muncul pemberitahuan beberapa panggilan yang masuk selama ponsel mati, lalu juga beberapa pesan masuk. Aku mencari satu nama. Aku menemukannya di urutan paling bawah.

Sebuah teks singkat.

“Mama kapan pulang?,”

Aku menekan tuts ponsel ABC 3x4, dengan jawaban yang singkat pula.

“Sekarang, sayang,”

Lalu aku menyudahi paragraf terakhir itu dengan senyum dan hati lapang. Cangkir kopi tandas seluruhnya, gerimis mereda, meninggalkan jejak-jejak di dinding kaca.




[sebuah flash fiction] 22 Juli 2016, 12:45 WIB

Dari Pohon Sycamore sampai Bandung 1990


Dua cover di atas adaah sampul depan sebuah Film dengan judul Flipped dan novel Dilan. Ada beberapa unsur yang membuat 2 karya ini saya jodohkan bersama. Sebagai hiburan disela-sela lelah, Flipped dan Dilan memiliki daya ledak luar biasa dibalik sederhananya cerita dan penyampaian. Oleh karenanya, saya kira 2 karya ini jauh lebih ngena dan memesona daripada hanya sebagai penghibur dikala senggang
Saya menikmati Flipped lebih dulu. Saya mendapatkannya dari seorang teman saat masih kuliah, lalu karena sudah tak memiliki stok film yang ingin ditonton saya iseng menontonnya. Tanpa prasangka dan ekspektasi saya mengikuti alurnya, tapi tak menyangka bahwa semuanya berbalik seperti judul filmnya Flipped. Film berdurasi satu setengah jam itu berhasil dan sukses membuat saya tersenyum-senyum sepanjangan.
Salah satu hal yang membuat saya ‘jatuh hati’ dengan Flipped adalah  saya seperti tidak menonton film ‘barat’ yang identik dengan pornografi sebagai pemanis cerita. Romantika 2 bocah yang tinggal berseberangan rumah ini terkesan lucu dan polos. Saya tidak menemukan adegan vulgar dan joke-joke kasar sepanjang film. Dan jadilah Flipped berdiri sendiri dengan anggunnya tanpa pengaruh dan bumbu-bumbu cerita yang merusak murninya cinta masa muda.
Lalu saya membaca Dilan karena meminjam dari seorang kawan. Saya sudah ingin membeli Dilan sejak ia nongkrong di Toko buku, namun karena berbagai hal, ia tak kunjung saya dapatkan. Saya rasa saya tidak berhak menyama-nyamakan satu karya dengan karya lainnya namun kali ini saya akan membuat gambaran kecil. Saya tidak menemui bahasa penuh metafora seperti tulisan Dee disini, tidak juga mendapatkan tulisan deskriptis khas Andrea Hirata yang penuh makna, apalagi tulisan padat dan berisinya A. Fuadi.
Pidi Baiq selaku penulis yang ngakunya imigran dari sorga ini menulis seperti jalan tol. Bebas hambatan. Tidak ada drama, tidak ada romantisme berlebihan tiap jengkal ceritanya. Begitu saja, namun ciamik dan memesona.
Persamaan Flipped dan Dilan menurut saya ada pada seting waktu. Dimana kisah Juli ada pada tahun 1960-an dan Milea pada tahun 1990-an. Hal ini tentu memengaruhi berbagai faktor seperti budaya, cara bicara, dan tentu gaya ‘jatuh cinta’ anak mudanya.
Kisah Juli dan Bryce membuat geleng-geleng kepala lewat tingkah konyol Juliana Baker saat membaui aroma tubuh Bryce Loski yang beraroma semangka. Rob Reiner selaku sutradaranya mampu menghadirkan scene ‘alay’ ini dengan cara yang apik.
Sama seperti cara Dilan yang sungguh luar biasa ‘ajaib’ mengambil hati Milea lewat percakapan tentang nyamuk dan kado Teka Teki Silang . seperti kata Milea, “meski yang dikatakannya bukan kata-kata cinta, tapi menumbuhkan rasa cinta.”
Dua karya ini tidak menggembar-gemborkan kisah cinta lewat karakter dan tokoh yang luar biasa, tidak juga punya setting tempat yang berlebihan indah, apalagi mengucapkan kata-kata cinta bak karya sastra, namun mampu menbuat aku jatuh cinta.

Post Script :

Bukan review, hanya kurang punya media untuk menguarkan uneg-uneg. Jadilah tumpah disini.