Cangkir kopiku surut separuh, huruf-huruf berserakan di layar
laptopku sudah penuh berlembar-lembar, tak ada gangguan sedikitpun dari
beberapa hari yang lalu. Selangkah lagi, aku
menyelesaikan tulisan yang hampir mencapai tenggat waktu.
Tanganku
berhenti menekan tuts keyboard saat aku
telah mencapai paragraf akhir, ada hal yang menghalangi gerakanku, rasanya berat sekali
menyudahi tulisan ini. Karena kalau ini selesai, aku pulang. Tak ada lagi sesi
kopi dan rintik gerimis yang berpadu manis.
Aku merogoh ransel. Tempat
pensil, tisu, beberapa buku tebal, binder, lembar-lembar kertas fotokopi, kotak kacamata, dan sebotol minyak kayu putih yang kutemukan. Aku hampir
memasukkan kepalaku ke dalam tas demi mencari sesuatu yang akan menarikku keluar
dari situasi yang tidak menyenangkan ini.
Lalu akhirnya ketemu. Ponsel
bodoh itu kutemukan. Maksudnya bukan memaki. Aku hanya mencoba membuat istilah
untuk ponsel usang yang hanya mampu menelpon dan berkirim pesan teks. Maklum,
orang-orang sekarang sudah memakai smartphone. Aku menamai diriku klasik, tapi
teman-teman berpikir aku norak, hanya karena aku tergolong analog dan bukan
digital.
Aku menekan tombol dayanya,
lampu menyala. Beberapa saat kemudian muncul pemberitahuan beberapa panggilan
yang masuk selama ponsel mati, lalu juga beberapa pesan masuk. Aku mencari satu
nama. Aku menemukannya di urutan paling bawah.
Sebuah teks singkat.
“Mama
kapan pulang?,”
Aku menekan tuts ponsel ABC
3x4, dengan jawaban yang singkat pula.
“Sekarang,
sayang,”
Lalu aku menyudahi paragraf
terakhir itu dengan senyum dan hati lapang. Cangkir kopi tandas seluruhnya,
gerimis mereda, meninggalkan jejak-jejak di dinding kaca.
[sebuah flash fiction] 22 Juli
2016, 12:45 WIB

