Rabu, 04 November 2015

Waktu


Sang Waktu

Dan hidup terus berjalan
tak pernah menunggu barang sedetik
apalagi berhenti barang sejenak

Dan kulihat ia tetap berdiri tak berkutik
dan ia tak pernah sadar bahwa Sang Waktu
telah banyak melewatinya tanpa sempat permisi

Dan yang tersisa hanyalah penyesalan,
lalu sekuat apapun ia memohon,
Sang Waktu dengan sombongnya tak pernah mau kembali...

(_ditulis 5 Sept 2010)


Waktu

Hampir penuh lembar kertas dalam buku itu dengan cerita dan berbagai kisah. Puluhan, bahkan ratusan judul telah ada. Kisah suka, kisah duka juga canda dan tawa, lengkap sudah. Namun pada lembar kesekian, kulihat kertas itu putih. Masih kosong. Hanya berjudul satu kata, lima huruf, dua suku kata, beribu makna. Waktu.
Aku juga tak paham mengapa lembar ke 15 itu kosong, meski 17 tahun telah saling mengenal. Kurasa, aku belum benar-benar memahami mengapa waktu telah banyak mengambil alih peran.
Waktu, sebuah makhluk ganas tanpa taring, pembunuh tanpa bilah pisau atau senjata, makhluk misterius yang mengerikan. Siap menerkam kapan saja. Tak kenal negoisasi atau kondisi, ia memang tak pernah berbelas kasih.
Meski saat ini, telah banyak yang menaklukkannya-mencacah hitungan waktu mulai dari pengetahuan siang malam saja lalu tahu bahwa siklus itu bergerak sama dari hari ke hari, hingga manusia bisa mengenal kata detik.
Tetapi waktu tetaplah waktu. Sang Dewa dunia. Titahnya tak boleh dibantah. Hal itu menyebabkan manusia mengenal 2 kata mengerikan. “Deadline” dan “sekejab”.
Deadline: dari artinya pun bisa kita pahami, “garis mati”. Bagaimana bisa telinga manusia akrab dengan kata deadline, karena dari dulu sampai detik ini dan entah sampai kapan, manusia dan waktu tak pernah akrab. Mereka saling berkejaran, entah mengejar waktu atau sebaliknya, dikejar-kejar oleh waktu. Itulah deadline.
Sekejab: satu hitungan waktu yang anomali, memiliki arti yang samar. Tak bisa diukur dengan stopwatch bagaimana cepatnya. Sepersekian detikpun tak bisa jadi patokan.
Karena jika tak patuh dengan titah Sang Waktu untuk memenuhi deadlinenya, sekejab kehancuran sudah pasti di depan mata.

Tidak ada komentar: