Sedalam apapun kau menyelam
Setinggi apapun kau terbang
Sejauh apapun kau berlari
Entah kemanapun engkau pergi
Rumah selalu jadi tempat yang paling hangat dan nyaman untuk ditinggali
-phie 05 Nov 2015
Medium sederhana untuk melesapkan pandang. Wadah untuk berbagi cerita tentang Kejadian yang ada maupun tiada. Yang benar-benar terjadi atau yang diinginkan terjadi. Fakta atau maya. Realis atau fiktif. Selamat berlayar dalam anak-anak sungai huruf yang membentuk lautan kata hingga bermuara ke samudera makna… Elegy, soliloquy, literature… Enjoy,,
Rabu, 04 November 2015
Waktu
Sang Waktu
Dan hidup terus berjalan
tak pernah menunggu barang sedetik
apalagi berhenti barang sejenak
Dan kulihat ia tetap berdiri tak berkutik
dan ia tak pernah sadar bahwa Sang Waktu
telah banyak melewatinya tanpa sempat permisi
Dan yang tersisa hanyalah penyesalan,
lalu sekuat apapun ia memohon,
Sang Waktu dengan sombongnya tak pernah mau kembali...
(_ditulis 5 Sept 2010)
telah banyak melewatinya tanpa sempat permisi
Dan yang tersisa hanyalah penyesalan,
lalu sekuat apapun ia memohon,
Sang Waktu dengan sombongnya tak pernah mau kembali...
(_ditulis 5 Sept 2010)
Waktu
Hampir penuh
lembar kertas dalam buku itu dengan cerita dan berbagai kisah. Puluhan, bahkan
ratusan judul telah ada. Kisah suka, kisah duka juga canda dan tawa, lengkap
sudah. Namun pada lembar kesekian, kulihat kertas itu putih. Masih kosong.
Hanya berjudul satu kata, lima huruf, dua suku kata, beribu makna. Waktu.
Aku juga tak
paham mengapa lembar ke 15 itu kosong, meski 17 tahun telah saling mengenal. Kurasa,
aku belum benar-benar memahami mengapa waktu telah banyak mengambil alih peran.
Waktu, sebuah
makhluk ganas tanpa taring, pembunuh tanpa bilah pisau atau senjata, makhluk
misterius yang mengerikan. Siap menerkam kapan saja. Tak kenal negoisasi atau
kondisi, ia memang tak pernah berbelas kasih.
Meski saat
ini, telah banyak yang menaklukkannya-mencacah hitungan waktu mulai dari
pengetahuan siang malam saja lalu tahu bahwa siklus itu bergerak sama dari hari
ke hari, hingga manusia bisa mengenal kata detik.
Tetapi waktu
tetaplah waktu. Sang Dewa dunia. Titahnya tak boleh dibantah. Hal itu menyebabkan
manusia mengenal 2 kata mengerikan. “Deadline” dan “sekejab”.
Deadline:
dari artinya pun bisa kita pahami, “garis mati”. Bagaimana bisa telinga manusia
akrab dengan kata deadline, karena dari dulu sampai detik ini dan entah sampai
kapan, manusia dan waktu tak pernah akrab. Mereka saling berkejaran, entah
mengejar waktu atau sebaliknya, dikejar-kejar oleh waktu. Itulah deadline.
Sekejab: satu
hitungan waktu yang anomali, memiliki arti yang samar. Tak bisa diukur dengan
stopwatch bagaimana cepatnya. Sepersekian detikpun tak bisa jadi patokan.
Karena jika
tak patuh dengan titah Sang Waktu untuk memenuhi deadlinenya, sekejab
kehancuran sudah pasti di depan mata.
Langganan:
Komentar (Atom)
