Senin, 06 Oktober 2014

This is my Birthday*

Memutuskan. Mengubah. Menjadi. Mencari jati diri. Melangkah. Berbuat. Bangkit. Bereksperimen. Mencapai. Menantang. Bermimpi. Menang. Menemukan. Menuntut. Berkomitmen. Berpikir. Meyakini. Menguatkan. Bertanya. Bertumbuh. Berpartisipasi. Membangkitkan kesadaran.
Pernah baca? Ya, ini sinopsis dalam bukunya Paulo Coelho. Dari banyaknya tumpukan buku yang ada dalam rak-rak itu, kata-kata ini membiusku. Membuatku mengecek isi dompet. Siapa sangka cover yang sungguh tidak menarik itu berisi kata-kata luar biasa.
Aku tidak mengenal Paulo Coelho, tidak seperti sastrawan indonesia yang kugila-gilai lalu menunggu bukunya yang akan keluar, tak peduli tema apa yang diambil, atau setidak menarik apa sampul depan bukunya, hanya karena ‘dia’ penulis yang kukagumi lalu serta-merta aku membeli karyanya.
Buku terjemahan bagiku asing, karena memang tidak pernah suka gaya bahasanya. Tidak murni hasil tulisan penulisnya. Itu semua gaya menulis penerjemahnya. Karena bahasa inggris pas-pasan jadi memilih untuk tidak membaca buku aslinya.
This is my birthday
Kenapa harus bicara soal buku? Sebenarnya buku itu menjawab semua kegalauan yang menyerangku. Mencari jati diri. Semua angan-angan rasanya hadir di depan mataku, mengingatkan bahwa mimpi hanya akan jadi mimpi, tidak akan lebih tanpa sebuah tindakan. Aku merasa belum melalukan tindakan apapun.
Karir, Cinta, dan Keluarga. Tiga komponen hidup yang tidak pernah terlepas dari beban di pundak. Menjadi seorang sarjana yang menempuh 1 tahun di TK, 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, 3 tahun di perguruan tinggi, adalah beban hidup luar biasa. Orang-orang dengan mudahnya bertanya “kerja dimana?” “kapan nikah?” dengan mudahnya tanpa pernah tau bahwa hal itu seperti sayatan pisau tajam ke ulu hati.
This is my birthday
Menghunus. Kali ini pisau itu tidak lagi menyayat. Itu terlalu sakit disebut sayatan. Bagian runcing dan tajamnya menghunus tepat di jantung. Tidak lagi di hati. Seperti menghentikan detaknya sejenak. Seperti lonceng raksasa yang berdentang di telinga. Mengingatkan terus mengingatkan 3 komponen yang luar biasa itu.

Masa depan adalah misteri luar biasa. Tuhan menjadikannya rahasia yang tak mampu diungkap oleh apa dan siapapun. Kecuali waktu. Hanya detik yang berdetak satu satu yang akan mengungkap segalanya.
Apakah aku akan menjadi bagian dari sebuah perusahaan, akankah aku berkarir sesuai disiplin ilmuku ataukah aku memiliki kesempatan untuk berprofesi menjadi apa yang kuimpikan.
Apakah aku akan bertemu dengan pria baik-baik yang mencintaiku karena Allah SWT, akankah aku melahirkan prajurit-prajurit yang akan berjuang di jalan Allah SWT dari seseorang yang kucintai.
Apakah aku akan menjadi seorang anak yang berbakti pada orang tua, membahagiakan, dan membanggakan. Akankah aku membuat lengkung senyum penuh kebanggaan di bibir ibuk dan bapakku.
21 tahun, bukan karena takut menjadi tua dan keriput. Tapi tanggung jawab ini benar-benar sendirian kupikul.

Aku selalu percaya sebuah persahabatan. Bahkan hingga detik ini, hingga aku menulis ini. Diantara penghujung 6 Oktober dan awal 7 Oktober. Saat mata ngantuk dan tubuh lelah menyerang. Aku merasa bahwa aku harus menulis, aku harus menulis.
“Tears are words that need to be written”, Paulo Coelho mengatakannya. Air mata adalah kata-kata yang harus ditulis. Jadi aku harus menuliskannya. Menuliskan air mata. Entah berapa banyak bulirnya. Mungkin kata-kata ini tidak cukup menggantikankan.
Waktu ternyata tidak menjamin kualitas persahabatan. Kamu bisa jatuh cinta pada sesorang saat pertama kali menatapnya, tanpa butuh waktu yang lama untuk sebuah perasaan luar biasa. Kamu juga bisa menatap penuh kebencian dan muak dalam waktu semalam karena kecewa dan penghianatan. Bukankah waktu tidak menjamin apapun: yang lama atau yang baru untuk sebuah kualitas kasih sayang.
Aku menunggu 3 kata “Selamat ulang tahun” atau cukup 3 huruf saja “HBD” dari seorang sahabat yang lama kukenal. Aku ingin terjaga hingga 6 Oktober berakhir. Aku hanya berharap bahwa dia akan memberi kejutan. Meski sejatinya aku tidak terlalu suka kejutan, tapi aku menunggu untuk dirinya. Tapi itu tak kunjung tiba. Lupa mungkin, tak ingat barangkali. Apa bedanya? Itu sama saja. Sama seperti tak terucap olehnya atau juga tak terdengar olehku. Peradaban secanggih ini. Dia terlau sibuk dan tak punya waktu untuk datang, tak punya pulsa untuk telepon, sms saja. Atau kirim pesan lewat media sosial yang gratis. Sesulit itukah? Tidak! Dia hanya lupa, atau tidak ingat. Itu saja.

* Jangan berharap isinya pake bahasa inggris.

Tidak ada komentar: