Memutuskan. Mengubah. Menjadi. Mencari jati diri. Melangkah.
Berbuat. Bangkit. Bereksperimen. Mencapai. Menantang. Bermimpi. Menang.
Menemukan. Menuntut. Berkomitmen. Berpikir. Meyakini. Menguatkan. Bertanya.
Bertumbuh. Berpartisipasi. Membangkitkan kesadaran.
Pernah
baca? Ya, ini sinopsis dalam bukunya Paulo Coelho. Dari banyaknya tumpukan buku
yang ada dalam rak-rak itu, kata-kata ini membiusku. Membuatku mengecek isi
dompet. Siapa sangka cover yang sungguh tidak menarik itu berisi kata-kata luar
biasa.
Aku
tidak mengenal Paulo Coelho, tidak seperti sastrawan indonesia yang
kugila-gilai lalu menunggu bukunya yang akan keluar, tak peduli tema apa yang
diambil, atau setidak menarik apa sampul depan bukunya, hanya karena ‘dia’
penulis yang kukagumi lalu serta-merta aku membeli karyanya.
Buku
terjemahan bagiku asing, karena memang tidak pernah suka gaya bahasanya. Tidak
murni hasil tulisan penulisnya. Itu semua gaya menulis penerjemahnya. Karena
bahasa inggris pas-pasan jadi memilih untuk tidak membaca buku aslinya.
This is
my birthday
Kenapa
harus bicara soal buku? Sebenarnya buku itu menjawab semua kegalauan yang
menyerangku. Mencari jati diri. Semua angan-angan rasanya hadir di depan
mataku, mengingatkan bahwa mimpi hanya akan jadi mimpi, tidak akan lebih tanpa
sebuah tindakan. Aku merasa belum melalukan tindakan apapun.
Karir,
Cinta, dan Keluarga. Tiga komponen hidup yang tidak pernah terlepas dari beban
di pundak. Menjadi seorang sarjana yang menempuh 1 tahun di TK, 6 tahun di SD,
3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, 3 tahun di perguruan tinggi, adalah beban hidup
luar biasa. Orang-orang dengan mudahnya bertanya “kerja dimana?” “kapan nikah?”
dengan mudahnya tanpa pernah tau bahwa hal itu seperti sayatan pisau tajam ke
ulu hati.
This is
my birthday
Menghunus. Kali ini pisau itu tidak
lagi menyayat. Itu terlalu sakit disebut sayatan. Bagian runcing dan tajamnya
menghunus tepat di jantung. Tidak lagi di hati. Seperti menghentikan detaknya
sejenak. Seperti lonceng raksasa yang berdentang di telinga. Mengingatkan terus
mengingatkan 3 komponen yang luar biasa itu.
Masa depan adalah misteri luar biasa.
Tuhan menjadikannya rahasia yang tak mampu diungkap oleh apa dan siapapun. Kecuali
waktu. Hanya detik yang berdetak satu satu yang akan mengungkap segalanya.
Apakah aku akan menjadi bagian dari
sebuah perusahaan, akankah aku berkarir sesuai disiplin ilmuku ataukah aku
memiliki kesempatan untuk berprofesi menjadi apa yang kuimpikan.
Apakah aku akan bertemu dengan pria
baik-baik yang mencintaiku karena Allah SWT, akankah aku melahirkan
prajurit-prajurit yang akan berjuang di jalan Allah SWT dari seseorang yang
kucintai.
Apakah aku akan menjadi seorang anak
yang berbakti pada orang tua, membahagiakan, dan membanggakan. Akankah aku membuat
lengkung senyum penuh kebanggaan di bibir ibuk dan bapakku.
21 tahun, bukan karena takut menjadi
tua dan keriput. Tapi tanggung jawab ini benar-benar sendirian kupikul.
Aku selalu percaya sebuah persahabatan.
Bahkan hingga detik ini, hingga aku menulis ini. Diantara penghujung 6 Oktober
dan awal 7 Oktober. Saat mata ngantuk dan tubuh lelah menyerang. Aku merasa
bahwa aku harus menulis, aku harus menulis.
“Tears are words that need to be
written”,
Paulo Coelho mengatakannya. Air mata adalah kata-kata yang harus ditulis. Jadi
aku harus menuliskannya. Menuliskan air mata. Entah berapa banyak bulirnya.
Mungkin kata-kata ini tidak cukup menggantikankan.
Waktu ternyata tidak menjamin
kualitas persahabatan. Kamu bisa jatuh cinta pada sesorang saat pertama kali
menatapnya, tanpa butuh waktu yang lama untuk sebuah perasaan luar biasa. Kamu
juga bisa menatap penuh kebencian dan muak dalam waktu semalam karena kecewa
dan penghianatan. Bukankah waktu tidak menjamin apapun: yang lama atau yang
baru untuk sebuah kualitas kasih sayang.
Aku menunggu 3 kata “Selamat ulang
tahun” atau cukup 3 huruf saja “HBD” dari seorang sahabat yang lama kukenal.
Aku ingin terjaga hingga 6 Oktober berakhir. Aku hanya berharap bahwa dia akan
memberi kejutan. Meski sejatinya aku tidak terlalu suka kejutan, tapi aku
menunggu untuk dirinya. Tapi itu tak kunjung tiba. Lupa mungkin, tak ingat
barangkali. Apa bedanya? Itu sama saja. Sama seperti tak terucap olehnya atau
juga tak terdengar olehku. Peradaban secanggih ini. Dia terlau sibuk dan tak
punya waktu untuk datang, tak punya pulsa untuk telepon, sms saja. Atau kirim
pesan lewat media sosial yang gratis. Sesulit itukah? Tidak! Dia hanya lupa, atau
tidak ingat. Itu saja.
*
Jangan berharap isinya pake bahasa inggris.