Ditulis
2011
Lebih dari cukup
Menekuri lembaran kain kanvas kosong adalah hobi
terbaruku akhir-akhir ini. Sejak kehilangan inspirator lukisanku, aku tak tahu
harus memulai goresan warna yang mana terlebih dahulu. Aku seperti limbung,
bergerak kesana-kemari tak lain untuk mencari keseimbangan untuk berdiri. Aku
berjalan menembus padang ilalang tanpa batas hanya untuk mencari sebuah
inspirasi melukisku yang baru, tapi tak ada yang dapat kutemui kecuali secuil
rasa yang masih tertahan di hatiku.
Lalu dalam pencarian jati diri yang semu atau tepatnya
untuk memenuhi tuntutan dari perut yang kosong, aku beralih profesi menjadi
seorang fotografer freelance dari sebuah majalah kuno yang mulai terbit
pada masa orde baru, yang barangkali Ayah dari Ayahku-pun tak berminat lagi
membacanya. Bayangkan, membacanya di ruang tunggu rumah sakitpun orang-orang
enggan, apalagi membeli. Jadi coba bayangkanlah berapa pendapatanku sebagai
juru foto lepas disini. Singkat kata: minim.
Pengap ruang kecil tanpa kipas ini menyesakkan dadaku
setiap kali ingin menghirup oksigen. Terperangkap dalam kamar kost murah di
tengah kota besar memang memuakkan. Aku memulai rutinitas hidupku dengan
memotret sejumlah objek di tengah kota, tak lain cerita gegap gempita perubahan
titik sebuah masa baru. Rupanya orang-orang sedang sibuk menyiapkan serangkaian
pesta untuk satu hitungan waktu cantik, pukul 00.00.
Aku menyusuri setiap ruang jalanan dan tiba-tiba angin
membawaku ke sebuah stasiun kereta api. Aku mengintai sasaran, menembak dengan
satu jentikan jari. Klik, sebuah siluet cantik itu tertangkap olehku, oleh
kameraku. Disaat semua orang sibuk dengan rencana pesta yang meriah dengan
pasangan, sanak keluarga atau sahabat, kulihat ia biasa saja. Masih menekuri
sebuah buku setebal 5,5 cm yang sekilas kubaca judulnya seperti sebuah novel
klasik yang sudah tak ada di pasaran. Ahh gadis itu, ingin sekali aku menemuinya,
mengajaknya bicara, meski sedikit saja.
Ia duduk di bangku panjang ruang tunggu stasiun kereta
api, tak bergerak sedikitpun kecuali mimik wajahnya yang kadang berubah. Kadang
Ia tersenyum, kadang berubah menjadi tegang. Klik klik klik, aku sibuk memencet
tombol kameraku, menekuri setiap gerak perubahan wajahnya yang anggun.
Saat suara gemuruh kereta itu makin dekat dengan telinga,
ia dengan sigap memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berlari kecil masuk ke
gerbong kereta. Ia hilang dari pandanganku.
* * *
Semburat senja sudah hilang dilahap malam, bergantian
peran dengan cahaya rembulan. Padat kendaraan disetiap ruas jalan membuat
perutku makin mual. Berjalan lambat di taman kota, menunggu waktu menjemput
satu masa baru. Aku masih melumat permen stroberi dalam mulutku demi
mengalihkan perhatianku dari rasa lapar, ketika kulihat gadis itu lagi. Ia
sendirian, mungkin karena ingin mengusir jengah, ia kesini untuk menonton
keramaian.
Elsa namanya, aku mengenalnya 4 tahun lalu dalam
perlombaan fotografi sewaktu SMA. Ia berasal dari sekolah swasta yang mahal,
bukan sekolah negeri yang gratis sepertiku.
“Dika?” bola matanya membundar memandangku kala ia
mendapati kameraku tertuju pada dirinya. Aku nervous sekaligus malu
karena ketahuan memotret orang tanpa izin. Ia tersenyum dan berjalan
mendekatiku. Deg.
“Gak nyangka bisa ketemu disini,” ujarnya setelah sampai
di dekatku, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum.
“Apa kabar? El,” aku berbasa-basi kecil. Kami bicara ini itu, reuni masa SMA
kecil-kecilan. Tak banyak yang dapat diceritakan karena memang tak banyak
pertemuan kami sebelumnya.
“Lima, empat, tiga, dua, satu.....” Hitungan mundur itu
terdengar dari sekeliling.
Suara gemuruh seperti tembakan bertubi-tubi itu terdengar
dahsyat, lalu sekelumit percikan cahaya kaya warna itu pecah di udara, sontak
membekukan percakapanku dan Elsa.
“Ambil gambarnya! Ayo cepet!” Ia meneriakiku, dengan
sigap aku membidik momen langka itu.
Mengabadikan warna-warni indah yang berharga jutaan
rupiah, yang hanya bertahan tak lebih dari 20 detik di angkasa.
“Bagus banget,” ucapnya sambil senyum-senyum, aku ikut
tersenyum.
Malam ini begitu indah, bukan karena hari ini orang-orang
ramai berpesta kembang api yang mahal harganya, bukan karena aku memasuki masa
yang baru diawal tahun, tapi karena aku bersama seorang gadis yang kukagumi
beberapa tahun belakangan ini. Kukagumi, dengan sangat.
* * *
Aku berjanji mengajaknya ke suatu tempat yang lebih indah
dari pesta kembang api kemarin. Dan ketika aku sampai di kampusnya, Ia sudah
menungguku dengan buku novel klasiknya.
“Hai, El” sapaku padanya, ia mendongak dan mendapatiku sambil tersenyum
“Hai…” dengan sigap ia memasukkan bukunya ke dalam tas dan menggandeng
lenganku, ia sudah tak sabar.
* * *
Kami sampai ke tempat itu saat matahari sudah dilumat
habis oleh gelap pekat malam. Namun taburan bintang di angkasa yang cerah malam
ini tampaknya membius pandangan Elsa. Ia bahkan tak sempat turun dari motor
untuk mengagumi padang bintang ciptaan Tuhan ini. Saking terperangahnya, Ia
membekap mulutnya dengan 2 tangan ketika aku mematikan mesin motorku.
“Di… ka…,” bisiknya kecil, aku meraih tangannya lalu mengajaknya
turun dari motor untuk melihat tempat ini dari sudut yang berbeda, untuk
mengagumi tempat ini dengan cara yang berbeda. Lalu kami sudah terbaring di
padang rerumputan yang hanya ditemani lampu-lampu kecil taman, memandang luas
angkasa bertabur bintang.
Tempat ini menyihir Elsa. Ia masih bungkam, belum berucap
sesuatu. Matanya agak berkaca seraya senyum bahagia itu masih tersungging manis
di bibir merahnya. Tangannya terangkat ke atas seolah ingin meraih kerlip
cahaya yang sedang memancar tersebut, karena tempat ini bagai bukit tanpa sekat
menuju angkasa.
Ia menoleh ke arahku menyunggingkan senyumnya lalu
memejamkan matanya. Dingin membalut tubuh kami, semilir angin menghembus mesra,
lalu dalam senyap bahkan mungkin syahdu, aku menorehkan solilokui ini.
Tak perlu kata-kata cinta yang romantis, karena aku tak
berdaya mengucapkannya. Tak perlu mawar putih yang indah untuk buktikan bahwa
rasa ini begitu tulus, tanpa pamrih. Karena aku tak memiliki rupiah untuk
membelinya.
Kurasa Ia cukup mengerti, apa makna malam ini untuknya. Kuharap
Ia mengerti. Karena alam yang begitu indah dan bersahabat ini, sudah lebih dari
cukup untuk menjelaskan semuanya.
Selesai



Tidak ada komentar:
Posting Komentar