Kamis, 23 Mei 2013

Lebih dari cukup



Ditulis 2011

Lebih dari cukup


Menekuri lembaran kain kanvas kosong adalah hobi terbaruku akhir-akhir ini. Sejak kehilangan inspirator lukisanku, aku tak tahu harus memulai goresan warna yang mana terlebih dahulu. Aku seperti limbung, bergerak kesana-kemari tak lain untuk mencari keseimbangan untuk berdiri. Aku berjalan menembus padang ilalang tanpa batas hanya untuk mencari sebuah inspirasi melukisku yang baru, tapi tak ada yang dapat kutemui kecuali secuil rasa yang masih tertahan di hatiku.
Lalu dalam pencarian jati diri yang semu atau tepatnya untuk memenuhi tuntutan dari perut yang kosong, aku beralih profesi menjadi seorang fotografer freelance dari sebuah majalah kuno yang mulai terbit pada masa orde baru, yang barangkali Ayah dari Ayahku-pun tak berminat lagi membacanya. Bayangkan, membacanya di ruang tunggu rumah sakitpun orang-orang enggan, apalagi membeli. Jadi coba bayangkanlah berapa pendapatanku sebagai juru foto lepas disini. Singkat kata: minim.

Pengap ruang kecil tanpa kipas ini menyesakkan dadaku setiap kali ingin menghirup oksigen. Terperangkap dalam kamar kost murah di tengah kota besar memang memuakkan. Aku memulai rutinitas hidupku dengan memotret sejumlah objek di tengah kota, tak lain cerita gegap gempita perubahan titik sebuah masa baru. Rupanya orang-orang sedang sibuk menyiapkan serangkaian pesta untuk satu hitungan waktu cantik, pukul 00.00.
Aku menyusuri setiap ruang jalanan dan tiba-tiba angin membawaku ke sebuah stasiun kereta api. Aku mengintai sasaran, menembak dengan satu jentikan jari. Klik, sebuah siluet cantik itu tertangkap olehku, oleh kameraku. Disaat semua orang sibuk dengan rencana pesta yang meriah dengan pasangan, sanak keluarga atau sahabat, kulihat ia biasa saja. Masih menekuri sebuah buku setebal 5,5 cm yang sekilas kubaca judulnya seperti sebuah novel klasik yang sudah tak ada di pasaran. Ahh gadis itu, ingin sekali aku menemuinya, mengajaknya bicara, meski sedikit saja.
Ia duduk di bangku panjang ruang tunggu stasiun kereta api, tak bergerak sedikitpun kecuali mimik wajahnya yang kadang berubah. Kadang Ia tersenyum, kadang berubah menjadi tegang. Klik klik klik, aku sibuk memencet tombol kameraku, menekuri setiap gerak perubahan wajahnya yang anggun.
Saat suara gemuruh kereta itu makin dekat dengan telinga, ia dengan sigap memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berlari kecil masuk ke gerbong kereta. Ia hilang dari pandanganku.
* * *
Semburat senja sudah hilang dilahap malam, bergantian peran dengan cahaya rembulan. Padat kendaraan disetiap ruas jalan membuat perutku makin mual. Berjalan lambat di taman kota, menunggu waktu menjemput satu masa baru. Aku masih melumat permen stroberi dalam mulutku demi mengalihkan perhatianku dari rasa lapar, ketika kulihat gadis itu lagi. Ia sendirian, mungkin karena ingin mengusir jengah, ia kesini untuk menonton keramaian.
Elsa namanya, aku mengenalnya 4 tahun lalu dalam perlombaan fotografi sewaktu SMA. Ia berasal dari sekolah swasta yang mahal, bukan sekolah negeri yang gratis sepertiku.
“Dika?” bola matanya membundar memandangku kala ia mendapati kameraku tertuju pada dirinya. Aku nervous sekaligus malu karena ketahuan memotret orang tanpa izin. Ia tersenyum dan berjalan mendekatiku. Deg.
“Gak nyangka bisa ketemu disini,” ujarnya setelah sampai di dekatku, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum.
“Apa kabar? El,aku berbasa-basi kecil. Kami bicara ini itu, reuni masa SMA kecil-kecilan. Tak banyak yang dapat diceritakan karena memang tak banyak pertemuan kami sebelumnya.

“Lima, empat, tiga, dua, satu.....” Hitungan mundur itu terdengar dari sekeliling.
Suara gemuruh seperti tembakan bertubi-tubi itu terdengar dahsyat, lalu sekelumit percikan cahaya kaya warna itu pecah di udara, sontak membekukan percakapanku dan Elsa.
“Ambil gambarnya! Ayo cepet!” Ia meneriakiku, dengan sigap aku membidik momen langka itu.
Mengabadikan warna-warni indah yang berharga jutaan rupiah, yang hanya bertahan tak lebih dari 20 detik di angkasa.
“Bagus banget,” ucapnya sambil senyum-senyum, aku ikut tersenyum.
Malam ini begitu indah, bukan karena hari ini orang-orang ramai berpesta kembang api yang mahal harganya, bukan karena aku memasuki masa yang baru diawal tahun, tapi karena aku bersama seorang gadis yang kukagumi beberapa tahun belakangan ini. Kukagumi, dengan sangat.
* * *
Aku berjanji mengajaknya ke suatu tempat yang lebih indah dari pesta kembang api kemarin. Dan ketika aku sampai di kampusnya, Ia sudah menungguku dengan buku novel klasiknya.
“Hai, El” sapaku padanya, ia mendongak dan mendapatiku sambil tersenyum
“Hai…” dengan sigap ia memasukkan bukunya ke dalam tas dan menggandeng lenganku, ia sudah tak sabar.
* * *
Kami sampai ke tempat itu saat matahari sudah dilumat habis oleh gelap pekat malam. Namun taburan bintang di angkasa yang cerah malam ini tampaknya membius pandangan Elsa. Ia bahkan tak sempat turun dari motor untuk mengagumi padang bintang ciptaan Tuhan ini. Saking terperangahnya, Ia membekap mulutnya dengan 2 tangan ketika aku mematikan mesin motorku.
“Di… ka,” bisiknya kecil, aku meraih tangannya lalu mengajaknya turun dari motor untuk melihat tempat ini dari sudut yang berbeda, untuk mengagumi tempat ini dengan cara yang berbeda. Lalu kami sudah terbaring di padang rerumputan yang hanya ditemani lampu-lampu kecil taman, memandang luas angkasa bertabur bintang.
Tempat ini menyihir Elsa. Ia masih bungkam, belum berucap sesuatu. Matanya agak berkaca seraya senyum bahagia itu masih tersungging manis di bibir merahnya. Tangannya terangkat ke atas seolah ingin meraih kerlip cahaya yang sedang memancar tersebut, karena tempat ini bagai bukit tanpa sekat menuju angkasa.
Ia menoleh ke arahku menyunggingkan senyumnya lalu memejamkan matanya. Dingin membalut tubuh kami, semilir angin menghembus mesra, lalu dalam senyap bahkan mungkin syahdu, aku menorehkan solilokui ini.
Tak perlu kata-kata cinta yang romantis, karena aku tak berdaya mengucapkannya. Tak perlu mawar putih yang indah untuk buktikan bahwa rasa ini begitu tulus, tanpa pamrih. Karena aku tak memiliki rupiah untuk membelinya.
Kurasa Ia cukup mengerti, apa makna malam ini untuknya. Kuharap Ia mengerti. Karena alam yang begitu indah dan bersahabat ini, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.

Selesai

Senin, 04 Maret 2013

Jatuh Cinta???

Aku telah sampai dimana hatiku mengirimkan sinyal-sinyal listrik statis ke sekujur tubuhku, merangsang rona dipipiku, menjalar kesekujur tubuhku lalu gelagatku mulai tak terkendali, aku kehilangan kendali nafasku, degub jantungku, bahkan jalan fikiranku.
Jatuh cinta. Ya, luar biasanya proses jatuh cinta.
Dan aku pula telah sampai dimana aku begitu lelah terjatuh, terjerembap. Terlalu sakit dan tak ada jemari yang menawarkan berdiri.
Dan Kau, yang sedang jatuhi cinta malah tak merespon sedikitpun. Sungguh nelangsa.
Aku rasa cukup. Disini saja. Aku berhenti.
Tak dapat kuhentikan lajur hatiku untuk berhenti jatuh hati padamu, jadi biarlah.
Biarlah begini saja.........

(ahh, ngomong apa sih gueee??)

Minggu, 13 Januari 2013

Tubuh kumal yang setia menanti

Aku berlari dan mencari
Mengelilingi jalan jalan berputar
Mengitari jalan curam
Menyeberangi lautan
Mendaki pegunungan
Tak ada yang kutemui selain serpih-serpih diriku yang kusam
Saat aku kembali, hanya dirimu yang tak berubah
Tak lebih indah dari tubuhku yang lelah
Sekian lama aku mencari
Miliaran langkah kujalani
Ternyata yang kudapati adalah tubuh kumal yang setia menanti
_sajak kecil dari cerpen : Dewi