Satu minggu saja. Tanggal 14 Oktober sampai 21 Oktober 2012.
Aku menemukan sesuatu yang tak pernah kudapatkan selama sembilan belas tahun.
Pengalaman besar, kenalan, teman, sahabat bahkan cinta yang
sifatnya temporer. Berbatas waktu satu minggu saja. Satu minggu untuk bertemu,
bertatap, merapal nama, bercakap, tertarik, terkesima, terpesona, jatuh
cinta. Jatuh cinta lewat sikap dan cakap, jatuh cinta pada orang-orang
yang baru dikenal. Dan satu minggu itu pula harus lupa segalanya. So Unbelievable.
Kini usai sudah. Acara dua tahun sekali itu begitu sukses
membuatku terjebak di ruang fatamorgana. Bahagia temporer yang begitu menyiksa.
Bangun lebih awal, berlari lebih kencang, dan tidur lebih
malam. Semangat! Semangat! Bagai mantra atau mungkin juga suplemen, kata-kata
itu menguatkan aku, menjadi antibodi yang membuat aku berdiri tegap, bangkit
bila terjatuh, menyeka keringat bila berpeluh. Berlari, berlari, berlari.
Mengejar entah apa yang kukejar.
Cinta dan persahabatan, persahabatan dan cinta. Itulah jiwa.
Nutrisi yang harus dikonsumsi untuk tetap memiliki jiwa seutuhnya.
Besok aku kembali menjadi seorang mahasiswi semester 3 dan
berkutat dengan tugas yang menumpuk selama satu minggu. Tak ada lagi yang
kupanggil Abang dan memanggilku Kakak. Meminta ini itu dan melayani ini itu.
Fatamorgana itu, usai sudah. Kenangan, hanya kenangan yang
dapat kucuri dari pertemuan kita di ruang fana. Berbagai percakapan sederhana
yang begitu kuingat. Itu saja. Aku kembali pada jalurku, kalian kembali pada
jalurnya.
Tak mampu aku datang pagi itu, tak sanggup rasanya bangkit
dari tidurku. Mataku berat, bengkak. Badanku panas, meriang. Bukan karena
pulang terlalu malam, bukan karena masuk angin, bukan karena terlalu lelah. Aku
begitu takut pada perpisahan. Aku tak sanggup melihat apa yang kuinginkan ada,
harus kulepas.
“Beda rasanya tanpa kalian, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus pergi, pulang.”
“See you later, I always remember you, keep your health, and be the best for all.”
katanya, lewat pesan singkat ke ponselku.
Tak sanggup kutahan air itu meluncur misterius di pipi. Ini
yang begitu kutakutkan bila aku datang dan menyaksikan semuanya hilang. Emosiku begitu meledak-ledak, aku takut tak mampu menahan tangisku. Lebih
baik aku disini. Terbaring dibalik selimut hangat, menyelesaikan isak. Tidur,
menunggu esok dan bangun dengan ingatan yang sudah di restart. Bagaikan
terbentur batu, lalu amnesia. Lupa tentang apa yang terjadi minggu ini. Lupa
akan segalanya. Hanya ada job-job praktek, laporan individual, catatan, tugas
dan lain-lain-lainya lagi dalam kepalaku. Menyibukkan diri dengan segala tuntutan
kuliah saja.
Pulang dengan medali kebanggaan, bahagia jelas tersirat di
mata mereka. Selamat, semangat!
Satu hari nanti, akan kutemukan dirimu semua. Seperti engkau semua menemukanku. Selamat
jalan, berhati-hatilah, sukselah, selalu.
(Pengalaman menjadi
Liaison officer Porseni IX di Palembang untuk kontingen dari Padang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar