Senin, 22 Oktober 2012

Fatamorgana yang Usai Sudah


Satu minggu saja. Tanggal 14 Oktober sampai 21 Oktober 2012. Aku menemukan sesuatu yang tak pernah kudapatkan selama sembilan belas tahun.

Pengalaman besar, kenalan, teman, sahabat bahkan cinta yang sifatnya temporer. Berbatas waktu satu minggu saja. Satu minggu untuk bertemu, bertatap, merapal nama, bercakap, tertarik, terkesima, terpesona, jatuh cinta. Jatuh cinta lewat sikap dan cakap, jatuh cinta pada orang-orang yang baru dikenal. Dan satu minggu itu pula harus lupa segalanya. So Unbelievable.

Kini usai sudah. Acara dua tahun sekali itu begitu sukses membuatku terjebak di ruang fatamorgana. Bahagia temporer yang begitu menyiksa.

Bangun lebih awal, berlari lebih kencang, dan tidur lebih malam. Semangat! Semangat! Bagai mantra atau mungkin juga suplemen, kata-kata itu menguatkan aku, menjadi antibodi yang membuat aku berdiri tegap, bangkit bila terjatuh, menyeka keringat bila berpeluh. Berlari, berlari, berlari. Mengejar entah apa yang kukejar.

Cinta dan persahabatan, persahabatan dan cinta. Itulah jiwa. Nutrisi yang harus dikonsumsi untuk tetap memiliki jiwa seutuhnya.

Besok aku kembali menjadi seorang mahasiswi semester 3 dan berkutat dengan tugas yang menumpuk selama satu minggu. Tak ada lagi yang kupanggil Abang dan memanggilku Kakak. Meminta ini itu dan melayani ini itu.

Fatamorgana itu, usai sudah. Kenangan, hanya kenangan yang dapat kucuri dari pertemuan kita di ruang fana. Berbagai percakapan sederhana yang begitu kuingat. Itu saja. Aku kembali pada jalurku, kalian kembali pada jalurnya.

Tak mampu aku datang pagi itu, tak sanggup rasanya bangkit dari tidurku. Mataku berat, bengkak. Badanku panas, meriang. Bukan karena pulang terlalu malam, bukan karena masuk angin, bukan karena terlalu lelah. Aku begitu takut pada perpisahan. Aku tak sanggup melihat apa yang kuinginkan ada, harus kulepas.

“Beda rasanya tanpa kalian, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus pergi, pulang.”
“See you later, I always remember you, keep your health, and be the best for all.”
         katanya, lewat pesan singkat ke ponselku.


Tak sanggup kutahan air itu meluncur misterius di pipi. Ini yang begitu kutakutkan bila aku datang dan menyaksikan semuanya hilang. Emosiku begitu meledak-ledak, aku takut tak mampu menahan tangisku. Lebih baik aku disini. Terbaring dibalik selimut hangat, menyelesaikan isak. Tidur, menunggu esok dan bangun dengan ingatan yang sudah di restart. Bagaikan terbentur batu, lalu amnesia. Lupa tentang apa yang terjadi minggu ini. Lupa akan segalanya. Hanya ada job-job praktek, laporan individual, catatan, tugas dan lain-lain-lainya lagi dalam kepalaku. Menyibukkan diri dengan segala tuntutan kuliah saja.

Pulang dengan medali kebanggaan, bahagia jelas tersirat di mata mereka. Selamat, semangat!

Satu hari nanti, akan kutemukan dirimu semua. Seperti engkau semua menemukanku. Selamat jalan, berhati-hatilah, sukselah, selalu.


(Pengalaman menjadi Liaison officer Porseni IX di Palembang untuk kontingen dari Padang)


Sabtu, 06 Oktober 2012

Tambah Tua

Sembilan belas tahun..
Hampir kepala dua, dan aku masih gini-gini aja. Bagun pagi, pergi kuliah, pulang sore, bikin tugas, dimarahi dosen, nulis laporan, naik turun lantai 3, bolak-balik gedung kuliah-lab-sekret. (entah kenapa semua ada di lantai tiga).
Stop Ngeluh Pliss!!!

Oke, kita mulai cerita ya.
Hari ini aku ulang tahun yang ke 19 tahun. Menurut aku, ini angka yang agaknya menakutkan. Aku dari dulu agak takut pada masa dewasa ini. Rasa-rasanya aku masih ingin menikmati masa-masa sekolah, remaja yang haha hihi. Sindrom tua kayaknya menghantui aku banget. Ketakutan ini sebenernya nggak beralasan sih, tua disini aku mikirnya bukan ke arah keriput atau beruban,

kalo uda tua, gini kali ya?

mungkin lebih ke sikap yang nggak bisa ke kanak-kanakan lagi. Harus lebih dewasa, nggak mementingkan diri sendiri dan lain-lain sebagainya. Aku takut kalo aku nggak bisa ngelakuin semua itu.

Sejauh ini sih, aku nggak pernah nyeselin sesuatu, (kesel sih sering, tapi nyesel rasa-rasanya enggak) menurut aku nggak ada yang sia-sia dalam hidup ini, tapi satu hal yang bikin aku akan nyesel adalah aku nggak ada fungsi apa-apanya selama hidup 19 tahun. Aku belum pernah ngebanggain ortu, bikin mereka bangga luar biasa, atau seenggaknya berguna bagi orang-orang sekitar.

Aku pengen banget bisa berguna buat orang lain, entah gimana caranya. Aku harus bisa. Bisa. Pokoknnya bisa!

Hari ini aku dapet surprise dari temen sekelas, mereka kasih kue cokelat dan nyanyiin lagu happy birthday. Aduh, sweet banget deh mereka, hehe.

Trus malemnya temen-temen organisasi aku dateng bawa kue dan kado yg berisi doa terindah seluruh dunia....


Okeh, itu aja ya.
Bye

Rabu, 03 Oktober 2012

Pernahkah kamu?




Pernahkah kamu begitu mengagumi sepatu hak tinggi indah yang terpajang menghadapmu , begitu memesonamu tiap kali memandang. Begitu dekat denganmu namun tak mampu disentuh. Selapis tipis etalase kaca butik mewah menghalangimu. Label limited edition cukuplah membuatmu mengerti bahwa barang itu begitu istimewa dan tak bisa disentuh oleh sembarang orang. Kamu  berbelok pergi, tak kembali.

Pernahkah kamu begitu jatuh cinta pada seorang pemuda yang ada dihadapmu, begitu memesonamu tiap kali bertemu. Begitu dekat denganmu hingga memungkinkan untuk saling bertatap, tersenyum, berbicara, hingga bersentuh. Jurang kecil yang kasat mata itu menghalangi langkahmu, menjarakkan dirinya padamu. Label not available itu cukuplah membuatmu mengerti bahwa ia sudah dimiliki orang lain dan tak mungkin berpaling. Kamu berbelok pergi, berharap ini hanya mimpi.

Rabu, 3 Oktober 2012
20:10 WIB