Rabu, 05 Oktober 2016

Today is a Gift

There is a saying : Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the “Present”
_Master Shifu, Kung Fu Panda



Dalam buku Padang Bulan, Andrea Hirata mengatakan bahwa kejutan merupakan hal yang luar biasa, seseorang bisa keranjingan dan bahagia hanya karena  menikmati sensasi sebuah hadiah kejutan.
Pada dasarnya hadiah tidak harus berarti berbentuk sebuah kejutan. Bisa jadi ia anugerah dari Yang Maha Kuasa, dan kita yang terlalu sibuk dengan penyesalan masa lalu dan pengharapan terlampau jauh di masa depan, tidak menikmati anugerah untuk hidup di hari ini.

Sejenak Hening, Adjie Silarus
“Menjalani Setiap Hari dalam Hidup dengan Sadar, Sederhana dan Bahagia”

23 tahun usia saya tahun ini, tepat hari ini. 6 Oktober 2016. Bagi saya, angka ini adalah angka keramat. Titik balik kehidupan saya. Di awal tahun saya biasa membuat harapan dan resolusi. Saya ingin ini, ingin itu, jadi begini, jadi begitu. Namun dari banyaknya resolusi, itu mungkin hanya jadi pengharapan sampah yang kosong.

Ada perbedaan mendasar mengenai resolusi dan harapan. Pertama, harapan hanya akan jadi sebuah angan-angan utopis kalau ia tidak dibarengi dengan usaha. Sebagai seorang muslim, saya memahami sebuah konsep bahwa setiap doa haruslah dibarengi dengan usaha, itulah yang islam sebut dengan ikhtiar. Yang kedua, resolusi dalam kbbi diartikan sebagai tujuan yang ingin dicapai. Bagi saya, resolusi merupakan tingkat kemajuan dari sebuah harapan. Resolusi merupakan visi yang didalamnya tergandung banyak misi.

Ada 3 visi besar yang saya beli mark, ctrl+b, ctrl+u, dan bahkan stabilo warna neon. Pertama, saya mau jadi business woman, punya usaha dan mendapatkan tempat untuk bejualan. Kedepannya, saya memiliki usaha suki yang mana sekarang Alhamdulillah bisa berjalan dan sudah punya lapak, meski hanya emperan jalan. Kedua, saya ingin jadi wanita karir, yang mana satu bulan terakhir saya mendapatkan pekerjaan, meski bukan pekerjaan di perusahaan bonafide dan salary-nya tidak sesuai ekspektasi, saya tetap bersyukur.

Dan yang terakhir, ini yang paling penting. Meski agak malu bercerita, saya sebenarnya memiliki harapan bahwa akan mengakhiri masa lajang di tahun ini. Dan inilah satu-satunya harapan saya tanpa misi, tanpa ikhtiar, tanpa usaha. Masalahnya karena saya tidak punya pacar lalu bagaimana bisa saya menikah coba? Tapi saya masih tetap berbaik sangka pada Allah SWT. Ada jalan secara islami toh untuk menikah, lewat perkenalan yang dihalalkan, taaruf namanya. Hehehe, gara-gara pengen nikah, saya mendadak islami. Ahh nggak juga, konsep taaruf saya kenal lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Habibburahman El Shirazi, dan saya suka lalu pada saat itu (10 tahunan lalu, saat masih SMP) saya kepingin juga kok. Meski bukan karena dasar syar’i. Murni hanya karena, “ihh lucu ya,” “pengen ah,”.



Banyak hal yang membuat saya berpikir ulang tentang harapan saya ini. Meski nggak punya pacar, memendam cinta sama orang lainpun nggak, saya merasa hidup saya udah full kok. Saya punya keluarga yang begitu demokratis, saya sama sekali tidak dibebankan apapun dalam setiap pengambilan keputusan. Keluarga saya tidak serta merta bertanya siapa pacar atau kapan menikah, itu semua adalah keputusan saya, itu semua urusan saya. Saya punya sahabat yang pemikirannya sama, nggak sibuk ngurusin pria dan nggak bergantung pada pria. Jadi, kalau dipikir-pikir menikah memanglah sebuah ibadah yang harus disegerakan, namun banyak hal yang mendasari kapan tepatnya itu akan terjadi. Saya pernah mendengar kutipan, in the right place, in the right time, and the right person. Bolehlah saya mengaminkan konsep itu. Begitu luar biasanya hingga saya percaya, di waktu dan tempat yang tepat saya akan menemukan orang yang tepat. Allah mengatur segalanya untuk saya, tanpa perlu saya jadikan itu sebuah visi dan misi. Saya toh hanya perlu membuka diri dan tentu saja memperbaiki diri, karena pria yang baik hanya untuk wanita yang baik.

Jadi meski nggak serta-merta saya membuang ‘pernikahan’ dalam resolusi tahun 2016, saya akan ikhlas menerima semua takdir yang digariskan Tuhan. Bukan karena putus asa, tahun 2016 sudah berjalan 10 bulan tapi tidak ada tanda-tanda ‘dilamar’ :D:D:D tapi saya merasa menikah adalah suatu tanggung jawab besar, baik secara moral maupun secara agamis. Karena bagi seseorang yang punya iman dan kepercayaan pada suatu agama, menikah merupakan sumpah pada Tuhan yang disaksikan oleh orang-orang. Jadi menikah bukan becandaan saya untuk harapan asal-asalan. Asal nikah tahun ini.

Saya menonton drama korea berjudul Age of Youth dan ada sebuah kutipan yang saya suka, katanya “kalau kau tersesat dalam kehidupan, itu caramu menemukan hidup yang baru”. Saya sudah tersesat dalam kehidupan dan sekarang saya menemukan diri saya di sebuah antah berantah dan saya akan memulai kehidupan saya hari ini.

Saya nggak akan menyesali masa lalu saya yang buruk. Bagaimanapun itu semua sudah terjadi dan nggak mungkin bisa saya ulang. Saya akan berhenti membuat harapan. Resolusi saya hanya untuk hal penting, hal praktis dan realistis, yang saya tahu harus saya lakukan dan saya mampu lakukan. Saya akan hidup untuk hari ini. Tanpa motivasi berlebihan, tanpa harapan-harapan utopis.
Saya lahir baru, usia 23 tahun, terlepas dari cinta pertama yang memuakkan, bebas dari tuntutan sosial, merdeka dari dikte masyarakat. Saya adalah saya. Saya hidup untuk diri saya sendiri. Siapa peduli orang mau bilang apa.



-pipi, 6 okt 2016