Bahkan jika seorang ilmuan terhebat di dunia
yang mengucapkannya, aku tetap tidak memahami konsep bahwa cinta berarti
melepaskan. Aku memang tak paham apa itu
‘cinta’ namun jika itu menyakitkan, apa ia masih bermakna cinta? Jika aku jatuh
sendirian dan penuh luka, haruskah aku tetap menamainya ‘cinta’?
Tak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan
mengetahui sisi gelap dirimu yang keji lalu bermusuh dengan dirimu sendiri
karena baru memahami cinta yang selama ini bersemedi dihati. Tak ada yang lebih
menggelikan dibanding mendapatkan penolakan cinta dari sahabat yang 10 tahun
kau kenal demi seseorang yang tak genap 3 bulan ia kencani.
Hari itu pukul 10 malam, mendung. Kamu mengetuk
pintu, sudah kepalang janji ingin bertemu. Katamu ada hal penting. Beranda
kamar kost itu dingin. Sekaligus senyap seraya kamu berucap.
“Aku mau menikah,”
Matamu menatapku lembut, ada senyum tipis
menghiasi bibirmu yang menghitam oleh batangan rokok yang selalu kamu hisap.
Pelan-pelan aku mulai menyesap oksigen. Mewaraskan diriku sebelum jatuh
menghantam tanah.
Harusnya cukup kubilang, “Aku kadung jatuh
cinta sama kamu,” lalu memelukmu. Menculikmu dan memenjarakanmu dalam kamar
yang hanya ada aku.
Tapi aku hanya pengecut yang membalas senyummu.
Sesaat sebelum kamu melangkah, aku bertanya. Entah dari mana datangnya
keberanian itu, aku menantang matamu yang lembut menatap mataku.
“Akankah berbeda kalau kubilang, jangan?”
Kalau hatimu hanya berdenyut mendengarnya,
jantungku sudah bergolak karenanya, gaduh oleh turbulensi yang tiba-tiba
menyerang.
Kamu menunduk, lalu pelan kulihat kepalamu
menggeleng. Kamu melangkah, aku luruh. Sesak dihimpit rindu yang menyaru linu.
Palembang, 11082016, 14:47 WIB