Sebuah surat selayaknya ada salam pembuka. Tapi aku memutuskan
untuk tidak menulisnya. Terlalu terlambat untuk berucap salam, kini biarlah
terlupakan. Terlampau banyak hal yang sejatinya ingin kuungkap, tapi tak ada
yang mampu kuucap. Aku hanya meminta 8 menit waktu yang kamu punya untuk
membayar 8 tahun yang aku habiskan untuk menantikanmu.
Jika kamu tanya apa inti surat ini. Aku jawab ini hanyalah sebuah
pengakuan. Tanpa harap, tanpa asa. Penegasan bahwa kamu adalah cinta pertamaku.
Itu saja. Sekuat apapun aku menyangkalnya, tak ada yang bisa merubah itu.
Bahkan waktu sekalipun. Aku pernah jatuh (cinta) sejatuh-jatuhnya, lalu patah
(hati) sepatah-patahnya dihempas kehampaan.
Jika jatuh cinta diibaratkan dengan air terjun. Air dihatiku
pernah begitu deras turun. Tapi kini bahkan jatuh satu-satupun sudah tidak. Air
di hatiku telah sampai di samudera tak berarus, hanya menggenang. Samudera adalah
pemberhentian terakhir, tak lagi mengalir. Hanya mungkin akan menguap dan
menjadi awan.
Sama, perasaanku juga. Sudah lama tak bergejolak, tenang namun
memilukan. Aku sudah tidak lagi ‘jatuh’ cinta. Aku hanya terjebak dalam cinta
yang kubuat sendiri. Menyiksa diri dengan terus mencinta. Menyekat-nyekatkan
bahagia dan menangis dalam diam disela-sela penantian yang tak kunjung tiba. Detak
jantungku menderaskan satu nama tapi kamu seolah menulikan telinga. aku seolah
mendewasakan diriku dengan terus berkata bahwa aku juga berhak bahagia. Aku
layak bahagia.
Perlu kamu tahu, kamu adalah inspirator tulisanku. Pemasok
inspirasi dari segala mahakarya yang pernah kucipta. Selama ini yang mampu
membuatku terus menulis hanya kamu, hanya kamu.
Seseorang harus bilang ‘hai’ ketika bertemu, dan ‘bye’ saat
berpisah. Kita tidak memulai ‘hai’ dengan baik, mari buat perpisahan dengan
‘bye’ yang baik.
BYE ... SELAMAT TINGGAL
Aku harap setelah ini kita tidak pernah bertemu lagi. Jika nanti
Tuhan menakdirkan pertemuan (lagi) untuk kita. Aku telah menjadi pribadi yang
baru. Yang sudah tidak lagi mencintaimu. Dan kamu hanyalah seonggok memori
cinta pertama yang usai sudah. Jika hari itu tiba, mari ucapkan ‘hai’ untuk
yang pertama kalinya.
Terima kasih telah meluangkan 8 menit yang kamu punya untuk
membaca, kalau belum sampai 8 menit kamu selesai membaca kertas ini, simpanlah
menit itu sebagai hutang. Dan tolong bayarkan dengan ‘hai’ saat kita bertemu
kelak.
Salam, orang yang selalu menyebut namamu diakhir sujud.
Ingin aku mengirimkannya, tapi entah kemana? Semoga 'kamu' yang disana, suatu hari akan membaca.
15 November 2006 - 15 November 2014
Aku ingin mengakhirinya.