Sabtu, 15 November 2014

Surat yang Tak Pernah Sampai

Sebuah surat selayaknya ada salam pembuka. Tapi aku memutuskan untuk tidak menulisnya. Terlalu terlambat untuk berucap salam, kini biarlah terlupakan. Terlampau banyak hal yang sejatinya ingin kuungkap, tapi tak ada yang mampu kuucap. Aku hanya meminta 8 menit waktu yang kamu punya untuk membayar 8 tahun yang aku habiskan untuk menantikanmu.
Jika kamu tanya apa inti surat ini. Aku jawab ini hanyalah sebuah pengakuan. Tanpa harap, tanpa asa. Penegasan bahwa kamu adalah cinta pertamaku. Itu saja. Sekuat apapun aku menyangkalnya, tak ada yang bisa merubah itu. Bahkan waktu sekalipun. Aku pernah jatuh (cinta) sejatuh-jatuhnya, lalu patah (hati) sepatah-patahnya dihempas kehampaan.
Jika jatuh cinta diibaratkan dengan air terjun. Air dihatiku pernah begitu deras turun. Tapi kini bahkan jatuh satu-satupun sudah tidak. Air di hatiku telah sampai di samudera tak berarus, hanya menggenang. Samudera adalah pemberhentian terakhir, tak lagi mengalir. Hanya mungkin akan menguap dan menjadi awan.
Sama, perasaanku juga. Sudah lama tak bergejolak, tenang namun memilukan. Aku sudah tidak lagi ‘jatuh’ cinta. Aku hanya terjebak dalam cinta yang kubuat sendiri. Menyiksa diri dengan terus mencinta. Menyekat-nyekatkan bahagia dan menangis dalam diam disela-sela penantian yang tak kunjung tiba. Detak jantungku menderaskan satu nama tapi kamu seolah menulikan telinga. aku seolah mendewasakan diriku dengan terus berkata bahwa aku juga berhak bahagia. Aku layak bahagia.
Perlu kamu tahu, kamu adalah inspirator tulisanku. Pemasok inspirasi dari segala mahakarya yang pernah kucipta. Selama ini yang mampu membuatku terus menulis hanya kamu, hanya kamu.
Seseorang harus bilang ‘hai’ ketika bertemu, dan ‘bye’ saat berpisah. Kita tidak memulai ‘hai’ dengan baik, mari buat perpisahan dengan ‘bye’ yang baik.
BYE ... SELAMAT TINGGAL
Aku harap setelah ini kita tidak pernah bertemu lagi. Jika nanti Tuhan menakdirkan pertemuan (lagi) untuk kita. Aku telah menjadi pribadi yang baru. Yang sudah tidak lagi mencintaimu. Dan kamu hanyalah seonggok memori cinta pertama yang usai sudah. Jika hari itu tiba, mari ucapkan ‘hai’ untuk yang pertama kalinya.
Terima kasih telah meluangkan 8 menit yang kamu punya untuk membaca, kalau belum sampai 8 menit kamu selesai membaca kertas ini, simpanlah menit itu sebagai hutang. Dan tolong bayarkan dengan ‘hai’ saat kita bertemu kelak.
Salam, orang yang selalu menyebut namamu diakhir sujud.



Ingin aku mengirimkannya, tapi entah kemana? Semoga 'kamu' yang disana, suatu hari akan membaca.
15 November 2006 - 15 November 2014
Aku ingin mengakhirinya.